Boru Panggoaran
Tuesday March 25th 2008, 12:31 am
Filed under: Melodi hatiku

Ho do boruku tampuk ni ate-ateki

Ho do boruku tampuk ni pusu-pusuki

Burju burju ma ho

Namarsikkola i

Asa dapot ho na sininta ni rohami

Molo matua sogot ahu ho do manarihon ahu

Molo matinggang ahu inang ho do na manogu-nogu ahu

Ai ho do boruku boru panggoaranki

Sai sahat ma da na di rohami

Ai ho do boruku boru panggaoaranki

sai sahat ma da na di rohami

Father_and_daughter



Mengenang Tiur
Saturday March 22nd 2008, 12:50 am
Filed under: Last thing on my mind...

“Kak Ime, si Oco udah di bandara sekarang, mau ke Jogja. Tiur meninggal.”, kata Iby selasa sore di telepon. Aku tak langsung “ngeh” dengan kalimat barusan. Ada banyak Tiur yang aku tahu. Tiur yang dimaksud adalah pacar Oco adik laki-lakiku. Iby bilang tenggelam. Terbawa arus ketika berekreasi. Hilang dari hari Minggu dan baru ditemukan senin malam.

Pagi harinya, seorang teman Oco, Alen, meneleponku dan minta dicarikan tiket ke Jogja atau ke Makasar untuk hari itu juga. Ketika aku tanya untuk siapa, dia bilang untuknya dan temannya. Kebetulan untuk hari Selasa kemarin semua penerbangan ke Jogja dan Makasar penuh semua. Lalu dia minta dicarikan penerbangan pertama eok harinya, “Mau dibawa ke Makasar soalnya.” Aku memang merasa ada yang aneh dengan kata-kata itu. Tapi aku tak pikirkan. Ternyata tiket itu untuk Oco dan Arman yang pergi mengantarkan kepergian Tiur selamanya. Aku tahu, kalau Oco bilang siangnya bahwa dia yang akan ke Jogja, dia tahu pasti aku akan memberitahu Mami dan Mami pasti akan melarangnya. Akhirnya dia memberitahu Iby saat dia sudah di Cengkareng. Saat mami tahu berita itu, mami menelepon Oco untuk hanya untuk memastikan dia bisa pulang dari Jogja.

Aku tak begitu mengenal Tiur ini. Aku tak tahu dia boru apa. Kami tak pernah bertemu muka, berbicara di telepon, atau bahkan bertukar pesan di Friendster. Hanya satu comment singkat darinya mengucapkan terima kasih. Yang aku tahu, dia dan Oco bertemu di Makasar, waktu Oco praktek di salah satu LSM di Malino. Hanya sekitar 2 bulan Oco di sana, pulang-pulang membawa status “punya pacar”. Mereka pacaran jarak jauh selama sekitar 8 bulan ini. Aku beberapa kali membuka profil FS nya. Dia cewek 19 tahun yang manis, putih, kecil. Dia kuliah di salah satu universitas di kawasan Jawa Tengah.

Aku membayangkan perasaan orang tuanya. Mengirim anaknya jauh dari rumah, dengan harapan kelak menjadi wanita berhasil. Tapi belum sampai stengah perjalanan, Tuhan sudah memanggil anakNya kembali.

Sampai sekarang, aku masih merinding membaca comment teman-temannya di profil friendsternya. Banyak yang merasa kehilangan dan tak percaya. Sangat mengharukan. Ternyata kematian itu dekat dengan kita. Siapa saja bisa pergi kapan saja, di mana saja. Kehendak Tuhan tak ada yang bisa menyangka.

Selamat jalan, Dek…

Semoga kamu berada di antara barisan malaikat yang setiap saat memuji Bapa kita…

Tiur



huuaaa….
Monday March 10th 2008, 2:38 am
Filed under: Current Affairs

Barusan ada tamu gw….

Ih…nyebelin bgt.

Udah minta harga murah, ya gw kasih dong, kebetulan ada. Waktu gw bilang kalo nih tiket ga bisa di cancel,eh,dia marah2. Takut ada apa2,sayang duit 300 ribunya itu angus…

Ye… mo harga murah terima konsekuensinya dong. Pake nyalahin gw, katanya knp gw ga kasi tau sebelumnya. gw udh jual ratusan tiket fix flight, malah ada yang subuh buta. Ga ada yang protes tuh. Flight dia tuh jam setengah 2 siang sodara-sodara!

Minta disilet kali ya…

Untung gw bukan gerwani berkutang hitam lingkar seribu…

Angrywomanholdingamagazineisp0803018



Kami Perempuan Batak
Wednesday March 05th 2008, 1:44 am
Filed under: Potrait of Me

Untuk: mami, nantulang denis, kak fre dan perempuan batak lainnya.

Kami perempuan batak. Kami lahir dan besar dalam keluarga batak dan adat-adatnya.

Kami perempuan batak telah terlatih sejak kecil untuk tidak merasa cemburu dengan perlakuan lebih orang tua kami (bahkan keluarga besar kami) terhadap ito (saudara laki-laki) kami. Tak bisa dipungkiri, dalam adat kami, perempuan tidak (belum) sepenuhnya setara dengan laki-laki. Dalam adat kami, anak laki-laki dianggap sebagai penerus keluarga. Dan sering kali anak laki-laki dianggap lebih berharga dari anak perempuan.

Kami perempuan batak, akan selalu dianggap anak-anak sampai kami menikah. Syarat pertama dari orang tua untuk rokkap (jodoh) kami adalah laki-laki yang seagama dan batak. Tentu saja tidak asal pria batak juga. Kami harus memperhatikan hubungan marga kami dengan marganya. Masih ada hubungan kekerabatan atau tidak. Persaudaraan 18 generasi yang lalu masih dianggap kandung dalam adat kami. Dan tetap tidak boleh masibuatan (saling menikahi). Setelah melewati adat yang panjang dan pertemuan yang intens dari kedua belah pihak marga, kami akan melangsungkan pernikahan yang akan memakan biaya puluhan juta. Biaya itu dapat diperkecil dengan melangsungkan pernikahan di kampung halaman.

Setelah menikah, kami takkan lagi dipanggil dengan nama kami sendiri. Kami juga meletakkan marga keluarga kami dibelakang marga suami kami. Kami juga harus mengerti tarombo (silsilah) keluarga baru kami. Setelah menyandang status sebagai istri, kami harus menjaga nama baik dari 2 keluarga kami. Menjaga nama baik orang tua kami di depan keluarga suami, dan menjaga nama keluarga suami di masyarakat.

Bagi kami perempuan batak, menikah dan berkeluarga adalah suatu langkah dalam hidup kami yang tidak boleh disesali. Apapun yang terjadi, bila sudah menikah, kami tidak bisa mundur. Perceraian bukanlah suatu pilihan bagi kami. Kami tidak meninggalkan suami kami di saat dia bangkrut, saat dia tak lagi bekerja, atau di saat dia lumpuh karena stroke. Kami juga tetap bertahan saat suami kami kasar, suka memukul dan memaki, selalu berjudi dan mabuk-mabukan, bahkan kami seringkali pura-pura tidak tahu kalau suami kami memiliki wanita lain. Statistic perceraian orang batak memang sangat kecil, tapi tidak lantas berarti pernikahan kami selalu bahagia dan tanpa masalah.

Menjadi perempuan batak, ‘kuat’ adalah nama tengah kami. Ketika suami kami entah berada di mana, atau sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu, kamilah yang memenuhi Gereja, dan membawa anak-anak kami kepada Tuhan. Ketika suami kami tak lagi atau tak mampu memberikan nafkah pada keluarga kami harus bisa berdiri di atas kaki kami sendiri. Bila tak bisa bekerja di kantor, berjualan sayur di pasar, menjadi timer di pangkalan angkotpun bisa kami lakukan. Bahkan tak jarang kami membungakan uang harian atau menjual togel.

Kami perempuan batak memang berbeda. Kami mempunyai “hobi” mengumpulkan kebaya dan kain songket, dilengkapi sasak rambut untuk dipakai hari Jumat dan Sabtu di pesta-pesta adat, juga hari Minggu saat kami mengisi acara kebaktian dengan paduan suara. Kami juga memiliki kebiasaan membungkus makanan untuk dibawa pulang dari pesta atau acara apapun yang menyediakan banyak (atau mungkin tidak banyak) makanan. Itu bukan kami memiliki napsu makan yang sangat besar, itu semata-mata karena kami mengingat anak-anak kami di rumah.

Kami perempuan batak memang tidak duduk di barisan depan pada pesta-pesta adat, kami hanya membagikan makanan kecil atau menari poco-poco di sudut ruangan. Kami memang tidak tertulis di silsilah marga kami. Kami  tidak memiliki hak bicara bahkan tidak boleh makan duluan. Tapi belum sekalipun kami disebut lemah.

(seorang perempuan yang berharap kelak akan menjadi perempuan batak sejati)

Paa263000009