Pangeran Cintaku ( II )
Wednesday January 30th 2008, 6:41 pm
Filed under:
Cerpen
Aku membuka mataku. Masih jam 7. Ini kan hari Minggu, tidur lagi ah. Belom punya cowok ini. Cowok? Hah,dia mau datang hari ini. Aku terlonjak dari tempat tidur. Seperti kesambar petir. Harus siap-siap dari sekarang nih. Dia bisa datang kapan aja. Aku mandi besar. Keramas sampai 2 kali, pake lulur mandi yang selama ini cuma jadi pajangan kamar mandi doang. Selesai mandi,aku pakai baju yang sudah kusiapkan semalam sampai jam satu. Atasan halter neck biru muda, yang baru kupakai sekali sejak dibeli tahun lalu dan rok jeans mini andalanku. Mengeringkan dan menata rambut saja lebih dari setengah jam. Pelentik bulu mata plus maskara untuk mata kebanggaanku. Setelah mencoba lebih dari 7 macam warna lipstik yang ambil dari kamar mami, aku memutuskan memakai lipgloss merah muda, agar tak terlihat terlalu menor. Aku mengagumi bayanganku di kaca besar di kamar mami. Lumayan juga untuk ukuran amatir seperti aku.
Penampilan sudah oke,sekarang aku harus mempersiapkan mentalku untuk pertemuan ini. Apa yang harus aku bilang pertama kali ke dia nanti?
“Hai, bunga dan puisinya bagus banget. Makasih ya!” ah,kayaknya norak.
“Hai, aku nggak nyangka punya penggemar lho!” agak-agak kepedean nggak sih. Aku keluar kamar untuk mengambil minum. Ternyata kakakku yang sangat tidak mendukung kebahagian adik perempuan satu-satunya ini dalam hal pangeran romantis itu, sedang makan nasi goreng sambil membaca majalah. Melihat dandananku yang agak-agak tidak normal untuk ukuran minggu pagi, Kak Yoga tak jadi menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
“Wah..wah..mau ke rental vcd aja heboh gitu. Emang penjaganya ganti ya? Bukan Kang Oyon lagi?” tanyanya berentet kayak petasan.
“Siapa yang mau ke rental? Sok tau banget!” jawabku sambil mengisi gelas dengan air dingin.
“Ini Minggu pagi,Yvonne! Apa lagi sih kerjaan adikku yang paling cantik ini di Minggu pagi selain ke rental,minjem 5 cd,trus nonton seharian?” ujarnya menyebalkan.
“Denger ya kakakku,yang paling sok tau sedunia padahal nggak tau apa-apa,hari ini nggak ada rental-rentalan. Nggak ada vcd-vcd an. Hari ini cowok yang ngirimin bunga sama puisi itu mau datang! So…” jawabku sekaligus menjelaskan penampilanku. Tiba-tiba saja kakakku keselek,terbatuk-batuk dan ngabisin segelas teh di depannya.
“What? The Prince of Romance mau datang? Waduh,kita belom siap-siap nih!! Kok nggak bilang dari kemaren-kemaren sih?”
“Kak Yoga kenapa sih? Kok jadi panik gitu? Siap-siap apaan?”tanyaku heran.
“Kita belom beli kantong sampah yang banyak,garasi juga belom dibersihin. Trus kita kan nggak punya rumput di halaman. Gimana dong?”
“Kantong? Garasi? Apaan sih?” aku belum ngerti-ngerti juga.
“Yvonne,yang datang itu pangeran yang naik kuda putih kan? Ngurus kuda kan repot, kantong buat pupinya, garasi buat parkirnya, rumput buat makannyalah…” jelasnya sok serius.
“Kak Yoga nggak ngeledek sekaliii aja,kenapa sih? Bisulan ya!” jawabku gemas. Aku ngeloyor kembali ke kamar.
Sudah jam satu siang. Perutku sudah paduan suara. Tapi nggak ada sedikitpun bau-baunya si cowok romantis itu. Sialan nih cowok,pikirku. Beneran nggak sih mau ke sini. Mana make up udah luntur lagi.
Pintu kamar terbuka. Kak Yoga masuk dengan senyum yang sangat nyebelin. “Sang pangeran kena macet ternyata. Dan membiarkan sang putri menanti tanpa kepastian..”
Ya Tuhan, kenapa ada sih aku tidak dikasih kakak yang sedikit suportif, batinku sambil memasang tampang super galak.
Teeett… bel pintu nan sember berbunyi. Kami berhenti bertengkar. Wajahku memucat. Aku tak bisa bergerak. Itu dia,pikirku. Kak Yoga tersenyum melihat perubahan warna wajahku.
“Hei! Malah bengong lagi. Sana bukain.” katanya sambil mengedipkan mata. Sambil mengatur nafas,kuraih pegangan pintu. Pintu kubuka, dan…
Oh,my God!
Aku masih nggak percaya dengan mataku sendiri. Seorang cowok,tinggi,putih, pake sweater biru yang … nggak tau deh.. Cowok paling keren yang pernah aku liat dengan mata kepala sendiri, berdiri di depan aku sekarang. Dia senyum. Ya ampun, ada lesungnya lagi,giginya rapih banget.
“Eh…hai!” sapanya. Aku tersadar dan langsung menutup mulutku yang ternyata dari tadi terbuka. Malu-maluin banget sih,umpatku.
“Oh,ya…Hai juga! Nyari siapa ya?”ujarku sok tenang. Padahal jantungku berdebar kencang banget. Sampai-sampai aku takut si perpaduan Sammy dan Josh Harnett ini bakal ngedenger jantungku yang udah mirip bedug!
“Hm…gini.. Aduh gimana ya?” katanya sambil meremas-remas tangannya. Kayaknya bingung banget. Bingung kayak gini aja, mukanya imut banget. Gimana kalo ketawa ya? Pasti manis deh, khayalku lagi.
“Gini…” lanjutnya membuyarkan lamunanku.
“Ya…?” aku nggak bisa menahan senyum. Cowok seganteng ini nervous ngomong sama aku.
“Saya yang ngirim bunga sama puisi yang kemaren-kemaren..”
Here it is..
Kata-kata yang aku tunggu dari tadi. Aku nggak tau nih mesti ngomong apa. “Oh,yang itu. Udah saya terima kok.”
Kok kaku banget sih ngomongnya! Aku bisa ngerasain darah di badanku ngalir lebih cepat.
“Oh,gitu ya…” Si tampan ini makin gelisah. Kenapa sih segitu nervousnya. Aku mikir, nih cowok kok bisa-bisanya kenal aku ya? Apa temennya Kak Yoga ya? Atau anak sanggar juga? Tapi masa sih ada cowok seganteng ini aku nggak inget. Bodo ah.
“Iya. Bunganya bagus, puisinya apalagi. Makasih ya!” pujiku sambil memberi senyuman termanisku.
“Ooo…” katanya pelan. Mukanya makin aneh aja.
“Dari tadi ah-oh ah-oh aja. Kenapa sih? Oh,ya masuk dulu deh!” aku baru sadar ini masih di pintu.
“Nggak usah deh,makasih! Saya cuma sebentar kok.” Katanya sambil garuk-garuk kepala. Aku makin bingung.
Si tampan itu narik nafas panjang, kayaknya berat banget mau ngomong.
“ Saya Nico. Memang saya yang ngirimin bunga-bunga itu.” Si tampan melihat ke mataku. Aku nggak bisa bernafas nih. Dia menarik nafas lagi,” Tapi ternyata saya salah nulis alamat.”
What??
“Harusnya Bougenville Raya 72. Eh,malah ketulis 27. Jadi.. sori ya!” jelasnya sambil tertawa. Seakan-akan kesalahannya itu nggak berdampak apa-apa terhadapku. Aku mencoba tersenyum,”Oo gitu…nggak papa kok.” Melihat aku tersenyum kayaknya dia lega banget. Dia ikutan senyum sambil ngejelasin kalo cewek yang ditaksirnya itu tinggal di blok sebelah. Dan tentang malunya dia waktu ke sana dan nanyain soal bunga sama puisi ke cewek itu. Dan tuh cewek nggak ngerti apa yang dia omongin. Trus dia ngecek ke toko bunga,dan ternyata ada kesalahan alamat. Dia nyeritain itu semua dengan ringan banget.
Dia nggak tau kalo seminggu ini hidupku berubah karena semua bunga dan puisi konyolnya itu. Dia nggak tau ini pertama kalinya ada cowok yang muja-muja aku. Dia nggak tahu tingginya khayalanku terbang mikirin pangeran tampanku yang ternyata salah alamat. Sialan nih cowok!
Setelah selesai nyeritain semua,si Nico pamit tetap dengan senyum yang bikin aku nggak bisa nahan ikutan senyum juga,padahal di hati rasanya pengen deh nonjok mukanya. Sempet-sempetnya lagi aku bilang good luck sama tuh cewek ke dia. Dia senyum maniiss banget,bilang makasih, trus naik ke crv hitamnya dan menghilang.
Dengan lemas kututup pintu. Mimpi apa sih aku. Satunya-satunya pengemarku di dunia ternyata salah alamat. Apa kata Kak Yoga ya? Pasti aku diledekin lagi. Lagi mikir begitu, Kak Yoga nongol di depan. Ternyata dari tadi dia nguping di balik tembok. Mulai deh,batinku.
“Wah,sang pangeran salah kastil ternyata….” Aku mau nangis rasanya.
“Udah deh,Von. Masih banyak ikan di laut! Makan sana,dari pagi belum makan kan?” lanjutnya.
Makan? Gimana bisa mikirin makan. Aku lagi patah hati berat nih.. Aku cuma pengen tidur sekarang. Tidur,trus bangun besok pagi, ngejalanin hidupku yang membosankan seperti sebelumnya. Trus ngayalin cowok-cowok kece lagi.
Hah, pe-er antropologi yang kena cappuccino belum diberesin……
Pangeran Cintaku ( I )
Friday January 25th 2008, 8:32 pm
Filed under:
Cerpen
Minggu pagi yang cerah. Matahari terang, burung-burung berkicau dengan senangnya. Senang apanya pikirku. Aku benci hari Minggu yang cerah. Mendingan hari ini hujan badai, angin topan, atau apalah. Pokoknya terjadi sesuatu yang bikin acara kencan Vito dengan Rya batal. Gagal total. Kenapa harus Rya sih? Memang sih dia cantik,pinter,baik,rajin. Memang sih dia nggak punya kekurangan. Tapi kenapa Rya yang nggak pernah kekurangan penggemar itu. Kenapa bukan aku aja? Aku memang nggak cantik-cantik banget,nggak pinter-pinter banget,nggak baik-baik banget. Tapi kan seenggak-enggaknya… ah, mau dicari ke mana juga aku nggak punya kelebihan dibanding Rya atau Kinan atau April atau yang lain deh. Pokoknya hari ini bete….
“..kujatuh cinta…aku tak ingin pisah…” suara sember Kak Yoga menambah gondok hatiku.
“Baru kemaren senyum-senyum sendiri,sekarang mukanya udah ketekuk. Ganti sountrack ya?” komentarnya melihat wajahku yang siap ngajak perang.
“..tanpamu cinta sudah lewat…” lanjutnya lagi sambil lari menghindari lemparan buku ensiklopedi fisikaku. Nggak akan ada yang bisa menghiburku hari ini. Sebel…
Teeeet…bel pintu bunyi nggak kalah sember. Setelah kira-kira 20 kali dipencet sama si tamu itu,dengan malas aku keluar kamar. Abangku pasti kupingnya lagi budek disumpel earphone. Kubuka pintu,ada cowok, nggak begitu tinggi, kurus, pake topi biru, kaos bola dekil, celana jeans lusuh,bawa….sebuket mawar merah. “Misi,mbak! Saya dari toko bunga,mau ngantar bunga ini.”ujarnya sopan. “Oo..buat siapa?” tanyaku heran. Seingatku di rumahku nggak ada yang ulang tahun hari ini.
“Nggak ada namanya, Mbak. Cuma ada alamatnya. Tapi ada kartunya. Coba aja dibaca, Mbak!” jawabnya.
Kuambil kartunya. Alamatnya memang benar. Ditujukan kepada “ Most Beautiful Girl Alive”.
What?
Kupandang kartu di tanganku dan wajah mas-mas di depanku bergantian.
“Ada yang salah,Mbak?” tanyanya nggak kalah heran.
“Nggak, nggak, mas. Bener kok. Makasih ya!” ujarku cepat. Dengan tersenyum dia pamit dan pergi.
Setelah mas-mas itu hilang dari pandangan dengan perasaan campur aduk,aku membawa buket itu ke kamar dan membaca kartunya.
“Untuk gadis tercantik… senyummu adalah embun di putik mawar ini…” Tunggu,tunggu…bunga ini untuk gadis tercantik,ditujukan ke rumah ini. Di rumah ini ada Mami, Papi, Kak Yoga, aku, Ronald adikku, Bi Sumi, Yanti keponakannya Bi Sumi yang masih kelas 5 SD, sama Mang Jaja. Cuma aku yang memenuhi kriteria si pengirim. Berarti…aku punya pengagum. Oh Tuhan! Jimmykah, atau Randy, Ridwan, Yudha, Nino atau siapa ya? Aku berpikir keras mengingat-ngingat nama cowok-cowok cakep di sekolahku. Nggak juga terpikir satu tersangka yang mungkin melakukannya. Tapi sebenernya rasa penasaranku tak sebesar balon di hatiku yang rasanya mau meledak karena senangnya. Aku yang tak berharga ini ternyata punya pengagum,romantis pula. Sisa hari itupun kujalani dengan perasaan super duper ceria, tak peduli dengan Kak Yoga yang sibuk mencari soundtrack yang cocok dengan suasana hatiku.
Senin pagi. Memasuki kelas, kuperhatikan satu-satu wajah cowok-cowok yang sedang ribut membicarakan bola semalam. Seakan berharap bakal ada yang menghampiriku dan berkata,”Bunganya nyampe nggak,Von?”. Tapi sampai bel pulang kutunggu,tak ada sesosok pria tampanpun yang mengakui perbuatan romantisnya itu. Setibanya di rumah,aku langsung menuju kulkas,dan menenggak air dingin di dalamnya, sampai mataku tertuju pada sebuah buket bunga di atas meja makan. Air yang baru menyentuh kerongkonganku itu,menyembur ke luar. Aku berjalan ke meja makan,tak peduli pada tumpahan air yang membasahi baju dan rokku. Kuambil kartu yang menempel di plastik pembungkusnya, lalu membacanya,
”untuk ratu hatiku…. Tatapmu adalah bintang jiwaku…” oh gosh…. “Mmiiii……..”,teriakku membahana.
“Aduhh,ada apaan sih teriak-teriak kayak gitu????”, mamiku datang tergopoh-gopoh.
“Ini kapan datengnya?”,tanyaku tak sabar.
”Oh,bunga ini. Tadi pagi,jam 10 an deh. Nggak ada nama pengirimnya. Emangnya ini buat kamu ya? Dari siapa sih?”, tanya mamiku mau tahu.
“Ada aja…”j awabku asal sambil membawa bunga dan kartunya ke kamar. Jam sepuluhan,berarti sama kayak kemaren. Gila ni orang niat amat ya. Segitu tergila-gilanya sama gue, pikirku bahagia.
“Baru dapet bunga aja,s umringahnya udah kayak jadian sama Pangeran William aja…”, suara sember Kak Yoga lagi-lagi merusak lamunanku.
“Gimana ya??? Seenggak enggaknya punya penggemar.”jawabku.
“Tuh orang belum beli obat lagi kali ya. Masih belum sembuh bener, kok dokternya ngebolehin pasiennya pulang ya. Payah dokter jiwa sekarang…” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ikut prihatin. “Sialaannn….”
Hal indah ini terjadi tiap hari,sampai hari Kamis. Pulang sekolah hatiku pasti berdebar-debar apakah pangeranku masih setia mengirimiku bunga dan puisi cinta. Benar saja, siang itu seikat bunga lili atau bunga apalah namanya,sudah ada di atas meja belajarku.
“Untuk pencuri hatiku…izinkan aku bukakan pintu dunia untukmu..”.
Walau tak mengerti maksudnya,yang jelas pasti romantis. Siapa sih ini cowok, pikirku. Kok dia sama sekali nggak ngasih petunjuk. Dan bunga-bunga itu selalu diantar pada jam yang sama.
“Mami sih udah nanyain,Von. Tapi mas-mas toko bunga itu bilang dia nggak tahu juga.” kata mami saat aku tanya. “Mungkin penggemar kamu itu,pengen ngasih surprise kali,Von.”
“Surprise apaan? Orang bego juga tahu,penggemar lo itu,ya si mas-mas yang nganterin tu bunga tiap hari. Orang nggak ada kerjaan mana sih yang mau ngirimin bunga tiap hari,pada jam yang sama,selain tukang bunga itu sendiri. Udah,Von,kalo tuh mas-mas nembak lo, terima aja. Kan lumayan bunga-bunga dari dia bisa kita jualin lagi.”samber Kak Yoga nggak rela ngeliat aku bahagia. “Mi…omelin Kak Yoga tuhhh!” aku minta dukungan.
“Yoga jangan gangguin adeknya mulu, kenapa sih?” mamiku membela.
“Bukan gangguin,mami sayang! Cuma mo nyadarin dia aja, jangan ngarep yang tinggi-tinggi tentang tuh orang. Kalo dia ganteng, keren, ngapain juga pake acara ngumpet-ngumpetin identitas. Langsung aja datang, to the point. Kalo begini caranya, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan kan?” jawabnya nggak mau kalah.
“Au’ah…” kataku dan langsung masuk ke kamar. Suka nggak suka,aku harus ngakuin kalo yang diomongin Kak Yoga itu bener. Gimana kalo ternyata yang ngirim bunga itu bener mas-mas dari toko bunga. Aduh.. nggak pernah kepikiran tuh. Trus kalo bener,aku harus gimana nih? Tapi kayaknya agak-agak nggak mungkin deh. Aku aja nggak kenal dia. Trus dari tampangnya,tuh mas-mas bukan yang punya tuh toko. Nggak mungkin dong dia nyolong bunga tiap hari. Masa nggak ketahuan. Pasti bukan mas-mas itu. Aku agak tenang sedikit. Okelah yang ngirim bukan tuh mas-mas. Gimana kalo cowok yang ngirim itu nggak sesuai bayanganku selama ini. Gimana kalo pangeran hatiku itu jauh banget dari Pangeran William? Gimana dong… somebody please help me…
Jumat dan Sabtu bunga dan puisi-puisi cinta itu masih aja diantar sama mas-mas yang sama. Aku tak seantusias biasanya. Aku nggak berani berharap tampang tuh cowok kayak Nicholas Saputra atau minimal Delon lah.
Hari Sabtu aku pulang siang, melihat bunga itu di kamarku. Aku malas membaca kartunya. Selesai ganti baju,aku langsung makan dan tidur siang. Sorenya aku ke warnet,mencari artikel tentang bom di kuningan untuk tugas sekolah. Malamnya,setibanya di rumah aku langsung menuju dapur,mencari cemilan untuk ngerjain pe-er antropologi. Sebungkus kacang dan segelas cappuccino berhasil kusita. Kalo nggak dicicil mulai sekarang,sampai menopause juga nih pe-er nggak bakal kelar, pikirku. Kusingkirkan buket yang dari tadi belum kusentuh. Aku mulai ngerjain tugas yang sekontainer itu. Jam 22.30,tugas ku hampir selesai. Aku putuskan untuk ngelajutinnya besok aja. Kuhabiskan sisa cappuccino di meja, sambil membaca kartu dari buket yang kuletakkan di pinggiran meja.
“ Untuk separuh nafasku… esok kuharap senyummu menyambutku di ujung penantianmu…” lagi-lagi cairan yang masih di kerongkonganku menyembur keluar. Membasahi hasil kerja kerasku. Besok? Besok dia mau ke sini. Ya ampun.. aku masih belum siap. Gimana nih. Aduh,gimana dong. Pake baju apaan? Mau ke sininya jam berapa? Aku harus bilang apa? Trus ngapain sama dia? Aduh…ibu peri, tolong cinderellamu ini…
Cemburu
"Kamu enggak cemburu?"
"Aku? Cemburu? Enggak. Kenapa?"
"Tandanya kamu enggak sayang sama aku."
"Aku enggak cemburu karena aku terlalu percaya diri. Aku enggak cemburu karena aku terlalu percaya kamu sayang sama aku. Aku enggak cemburu karena aku yakin sama perasaan kamu. Atau aku yang terlalu yakin?"
Muka Jutek
Buat temen-temen yang kenal gw personally, tau banget klo muka gw tuh ga ada manis-manisnya acan. Muka gw sering (atau selalu?) bertampang judes, jutek atau galak. Tapi, plis… itu cuma penampang muka gw doang. Hati gw mah halus dan lembut. Yah mungkin sedikit galak kali yah. Banyak pengakuan temen-temen gw, waktu pertama ngeliat gw mereka ngira gw jutek. Tapi lama-lama makin kenal gw mereka sih asik-asik aja.
Kemaren-kemaren sih gw gak pernah merasa terganggu dengan wajah gw ini. Cuma belakangan ini gw sering dicomplain sama Ao, gara-gara orang rumahnya bilang gw gak pernah senyum sama mereka. Duh… perasaan gw udh manis-manis deh kalo di rumahnya.
Muka gw tuh satu tingkat di bawah orang lain dalam skala senyum. Kalo gw ga senyum (ga cemberut padahal lho), bagi orang itu cemberut. Kalo gw senyum dikit buat orang lain itu belum bisa dibilang senyum. Jadi gw mesti senyum 3 jari buat meyakinkan orang kalo gw tuh lagi senyum.
Jadi sekarang gw mo latihan menghilangkan kerutan di jidat gw, yang ga tau kenapa berkerut terus. Itu kali yah yang bikin muka gw kayaknya lagi berfikir seruis terus. Ya ampun, ini kan keturunan dari papi. Emang bisa diilangin ya? Atau gw pasang muka senyum 3 jari seharian kali ya? Gila, gila deh sekalian…
Pelecehan Seksual
Kemarin gw baca ini dan ini. Pelecehan seksual sebenernya sering bgt terjadi sehari-hari. Dan sering kali pelaku dan korban ga sadar kalo mereka tuh sedang terlibat pelecehan. Termasuk gw. Dalam hal ini gw korban lah ya.
Dulu waktu baru-baru kerja di Bouraq di Pasar Baru, gw sering nginep di Cipulir, tempat tante gw. Karena akses angkot lebih gampang. Dari sana gw naik patas 56 Ciledug-Senen. Kalo udah leawt cipulir itu, sang patas biasanya udah penuh. Sampe ke pintu-pintu berdirinya. Karena gw naik patasnya pada jam-jam yang sama, kayaknya gw naik bus yang sama juga tiap harinya.
Adalah sang kenek. Yang secara muka bokir masih seribu kali lebih bagus daripada dia. Mula-mula dia suka ngegodain gw. Seinget gw sih ga pernah gw tanggepin. Sampe suatu hari, gw dapet tempat duduk di bangku yang buat 3 orang, agak di belakang. Gw ga tau gimana, tiba-tiba tuh kenek duduk di samping gw. Gw lagi duduk di paling pojok deket jendela, kondisi bus lagi full bgt. Kenapa bisa tuh kenek duduk di situ. Dia nyapa gw. Gw diem. Dia mulai nanya-nanya . kerja di manalah, pulang jam berapalah. Gw mulai ga nyaman. Tiba-tiba dia megang paha gw. Sedikit di atas lutut kiri gw. Gw kaget, gw takut, dan bodohnya gw ga berusaha nepis tangannya atau gimana. Gw diem aja. (Gw bersyukur gw pake celana panjang waktu itu bukannya rok).
Nyampe di kantor gw cerita ke senior-senior gw yang cewek. “Kenapa ga kamu tonjok aja sih?”, mereka marah-marah. Dari cara mereka marah gw baru sadar kalo itu termasuk pelecehan seksual.
Pantat gw ditowel juga pernah. Waktu di terminal senen.
Selain itu gw juga pernah (sering yang ini mah) dilecehkan secara verbal. Gw memiliki bulu yang agak sedikit lebih banyak dari wanita lain. Kejadian yang paling gw inget, waktu itu di kantor lagi ada razia listrik. Jadi satu-satu meteran listriknya diperiksa. Karena lagi ga ada cowok di kantor, gw keluar sekedar ngeliat mereka ngapain aja. Gw nanya-nanya tentang razia macam ini ke mereka. Dengan sopan tentunya. Trus ga lama salah satu dari mereka nyeletuk,”Bulunya banyak amat,Neng? Itu baru haltenya ya, gimana terminalnya?” Trus dia ketawa-tawa.
Doeeeng….
Gw langsung masuk ke dalam dengan gondok. Mo gimana lagi coba? Di kalangan orang-orang kayak mereka, melontarkan lelucon ga beretika kayak gitu wajar-wajar aja. Males banget gak sih. dia tuh bukan siapa-siapa gw. Kenal juga enggak. Temen-temen deket gw aja kalo sampe ngomong kayak gitu bisa gw toyor kepalanya. Nyebelin banget kan. Ga mungkin gw langsung maki-maki tuh orang listrik. Gw bukan tipe kampung kayak gitu. Masih banyak deh kata-kata yang menurut yang ngomong itu lucu, tapi buat yang dibecandain itu pelecehan.
Jadi saran gw buat para cowok khususnya, ati-ati kalo mo becanda masalah-masalah fisik perempuan. Sebenernya gw juga mau maki-maki para pelaku itu di postingan ini, tapi gitu baca postingan ini, pemilihan kata dia lebih dahsyat. Hahaha….
Gw sekarang mo latihan dulu, kalo dilecehkan secara verbal lagi gw mesti jawab, ga boleh cuma melongo aja kayak kemaren-kemaren. Caiyooo….
Super Mama
Pernah nonton indosiar ga, selasa sampe kamis stengah 7 malam?
Ada Super Mama Seleb. Sang anak yang adalah selebritis non penyanyi, “berani tampil malu” menyanyi dan dipromosikan oleh sang mama.
Ada yang bagus, banyak juga yang maksa. Walau yang dijual sebenernya sih “perang ledekan” para MC dengan para komentator. Cukup menghibur untuk 1-2 jam pertama. Acaranya sampe 4 jam,bo!
Meratiin ga, ada 2 jenis mama di sana. Mama yang cantik, yang enak dipandang, luwes, terlihat cerdas dan berpendidikan, sedikit dikoreksi Madam Ivan dengan mama yang kelihatannya lugu, pemalu, selalu jadi bahan lelucon Eko dan Ruben?
Well, kenapa ya? Secara usia mereka tidak terpaut terlalu jauh. Belum bisa dibilang beda generasi. Pekerjaan sehari-hari? Banyak kok mama jenis pertama yang hanya ibu rumah tangga, sama kayak mama kedua. Factor pendidikan? Yah, mungkin, tapi gw rasa bukan.
Gw sering membicarakan ini sama mami tiap kali nonton. Kami sepakat itu karena pergaulan.
Gw punya inanguda, umur sekitar awal 30an, tumbuh besar dan sampai sekarang tinggal di sini. Bekasi. Orang tuanya juga tinggal di sini. Tapi dia berdandan, pembawaan, cara berbicara, sangat "tidak kota". Rambut yang tak pernah rapih, okelah dia menyisir dan mengikat rambutnya yang panjang,keriting, dan kering itu, tapi ga tau kenapa bagi gw tetep ga rapih. Baju yang sangat-sangat “jadul” dan sering ga matching, ga pernah kenal yang namanya wewangian tubuh, apalagi deodorant untuk ketiak. Dia selalu bau. Cepet nangkep sih orangnya, cerdas, tapi tetap kolot dan kampungan. Ga usah dia, adik bungsunya perempuan, yang umurnya ga jauh di atas gw juga persis sama. Kenapa coba? Tinggal di kampung? Ga kok. Dia tinggal di perumnas di pusat kota Bekasi (FYI Bekasi bukan kampung ya saudara-saudara). Ga punya duit? Ga juga. Selama ga maksain facial di klinik kulit, gw rasa duit bukan alasan. Kurang informasi? Halo, bekasi punya semua siaran nasional, ditambah bejibun siaran local. Ga ada alasan untuk bilang ga tau adanya rexona deo-lotion. Jadi kenapa dong? Karena menurut dia hal-hal kayak gitu ga penting. Padahal menurut gw hal-hal di atas bukan pilihan mau atau enggak dilakukan. Tapi emang harus. Tubuh harus dirawat, ga mesti heboh, minimal pake body lotion dan pelembab. Perempuan jangan sampe bau apalagi bau asem. Kenapa kami bisa beda? Karena di lingkungan dia tumbuh besar dan bergaul mengatakan begitu. Mamanya seperti itu, teman-teman sehari-harinya (which is di pasar) seperti itu juga. Sekarang dia punya bayi umurnya setahun. Dan anak itu juga bau. Bayangin dong. Di kamusnya ga ada tuh yang namanya baby oil, baby bath, apalagi baby lotion.
Waktu nyokap gw berniat menghibahkan baju-baju dan benda-benda kami kecil ke mereka, gw memegang erat-erat boneka gw dari Uda Nangkok. (Begini silsilah kami, dari papi bersaudara ada 4 anak laki-laki, papi, Uda Binaris, Uda Nangkok dan Uda Batahan. Inanguda topic kita kali ini adalah istri Uda Batahan.) Memang sih anjing besar berbulu putih itu selama ini cuma jadi penghuni lemari baju, tapi mendingan gitu, gw ga bisa bayangin apa yang terjadi kalo boneka itu seminggu aja dipegang 3 makhluk kecil ajaib itu. Kalo boneka spongebob sih silakan aja diambil, jadi buka karena gw pelit. Mereka ga pernah diajarin cara memperlakukan barang. Karena bagi orang tuanya, hal-hal kayak gitu ga perlu.
Kenapa gw bilang pendidikan ga begitu menentukan? Gw punya inanguda satu lagi. Istri Uda Nangkok. Tidak cantik, tidak kaya, hanya lulus SMA. Selalu enak dipandang, enak diajak ngobrol, punya 2 anak yang umurnya ga beda jauh dengan anak Uda Batahan, tapi punya etika 180 derajat berbeda.
Balik ke supermama. Kayak yang udah gw bilang, mama “pintar” itu ga semua (dulunya) wanita karir. Dan gw yakin ga semua berpendidikan tinggi. Tapi bisa begitu “membanggakan” anaknya di tivi.
Gw bisa kayak gitu ga ya? Kadang-kadang gw berfikir. Gw juga ga sekolah tinggi, ga punya keahlian atau prestasi yang membanggakan, tapi gw bercita-cita jadi ibu yang baik, membanggakan buat anak, suami, mertua, ipar, dan ber-image baik di mata keluarga besar dan masyarakat. Gitu doang cita-cita hidup gw. Ga muluk.

Balada Sakit Maag
Minggu lalu gw lagi-lagi terserang sakit keturunan ini. Maag. Tak jelas sebabnya. Memang sejak tahun baru, gw kena flu. Thanks to hujan besar di malam tahun baru, dan kehujanan waktu naik motor menuju rumah Ao di hari selasanya. Flu berat itu sempat membuat gw 1 hari ijin tak masuk ke kantor. Mengkonsumsi anti biotic dan obat warung berhasil mengusir demam dan meriang gw, dan meninggalkan batuk kering yang gatal. Memang sejak flu napsu makan gw berkurang drastis. Gw jarang menghabiskan porsi makan biasa. Tapi gw usahakan untuk tidak melewatkan 1 waktu makan pun. Sejak sembuh dari flu, gantian gw sering merasa mual dan eneg. Awalnya cuma di pagi hari. Tapi mulai hari selasa tanggal 8, mualnya mulai terasa lebih sering. Dan puncaknya hari rabu, gw muntah-muntah di kantor. Semua yang gw makan dan minum (itu juga yang berhasil masuk ke perut, karena kalo lagi mual, gw gak pengen makan apa-apa) gw muntahin semua. Buat yang belum tau rasanya muntahin sesuatu, saat perut lo kosong, nih gw kasih tau. Rasanya kayak perut kita diplintir, semua otot perut berkontraksi. Belum lagi yang keluar itu cairan kuning yang pahit. Katanya itu asam lambung. Cukuplah untuk membuat lo nangis di kamar mandi. Berkali-kali mbak Ai mergokin gw duduk di depan tangga di samping kamar mandi, nangis.
“Kita ke dokter aja ya ntar, daripada kamu kesiksa terus”, salah satu sms Ao menguatkan gw.
Pulang ke rumah, mami, orang pertama yang gw pengen ketemu, gak ada. Cuma ada papi. Huh, laki-laki bisa apa, pikir gw. “Kenapa inang?”, tanya papi yang gak gw jawab langsung masuk kamar. Muntah lagi , nangis di kamar. Lapor ke Ao cuma bikin dia marah. Jam 7 malam dia ke rumah. Marah dan kesal. Pengen rasanya gw nyuruh dia pulang dan nunggu mami aja buat ke dokter. “Udahlah, naik…” dengan kesal (karena menurutnya penyakit gw dibikin sendiri) dia nyuruh gw naik ke motor. Dengan atasan blus yang gw pake ke kantor, celana pendek bali, sweater rajutan cokelat dan sandal jepit, kami pergi ke praktek dokter terdekat.
Nyampe di sana, nomor yang baru masuk nomor 14, sedang gw urutan 38. Gila kan?
Setelah sejam dijutekin sama Ao, akhirnya nama gw dipanggil juga. Dengan gemilang, dokter berpengalaman itu bilang,”Ini maag.” Tanpa basa-basi si dokter ngasih gw kertas yang isinya hal-hal yang gak boleh gw konsumsi dalam 2 minggu.
Waktu menunggu obat diracik sang apoteker, Ao bilang dengan judes,”Denger Imelda, ini yang terakhir.” Duh mana sih yang orang bilang kalo punya pacar saat sakit kita dimanja-manja, disayang-sayang. Yang ada gw kasi muka yang dilipet-lipet.
Pulang dari dokter, mami blom ada juga di rumah. Huh, tambah bete. Jadilah malam itu gw cuma makan nasi telor ceplok sama kecap. Paling banyak gw makan 5 sendok. Pokoknya udah menuhin syarat buat minum obat.
Besoknya gw ga kerja. Pagi-pagi mami udah masakin bubur nasi pake kornet dan telor. Gw sehat aja gw ga doyan bubur. 2 hari gw ga masuk kerja, 2 hari tiap waktu makan adalah mimpi buruk bagi gw. Memang satu-satunya cara buat sembuh, ya dipaksa makan. Itu kata dokternya. Tapi dia ga ngasih tau, caranya maksa makan itu gimana? Gw udah gede, mami ga sudi lagi nyuapin gw. Disuapin Ao dengan muka jutek dan omelan panjang lebar, mending gw makan sendiri. Hari Sabtunya gw udah mulai masuk kerja. Gw baru mulai ngerasa agak sedikit nafsu makan waktu Ao nganterin panggang dan sop ke kantor buat makan siang. Minus dia nemenin gw makan pastinya.
Di hari minggunya, gw makan nasi sampai 5 kali. Gw pikir ini pertanda baik gw mulai sembuh. Tapi ternyata ga juga. Emang sih gak ada keluhan yang berarti seminggu ini, tapi napsu makan gw belum pulih bener. Tadi malam aja gw masih diomelin sama Ao, karena menurut dia makan gw masih terlalu dikit.
Gimana ya mulihin kesehatan gw? Secara banyak banget pantangan makanan gw, yang gw niatin bakal gw patuhin. Apa gw minum multi vitamin buat anak-anak aja ya? Abisnya gw males banget berantem gara-gara cara makan gw. Besok-besok kalo gw sakit apapun, gw ga mau ngeluh ke dia ah. Rempong urusannya.
Ada yang bisa bantu gw?
Banyak banget ya berubah di hidup gw jadinya. Ga ada lagi tuh namanya kopi atau latte-latte apa gitu di pagi hari. Pagi-pagi harus sarapan. Minimal roti tawar. Kalo jam 12 teng, Ibnu sang kurir gw blom dateng bawa makanan, gw akan kebakaran jenggot. Paling lambat jam 7 malam harus udah makan malam. Makan ga boleh pedes, ga boleh asem, feses gw udah kayak bayi (fesesnya bayi maksudnya, bukan bayinya). Selalu bawa Marie Regal di tas buat kasus darurat. Tiap ada hal aneh di perut, langsung makan mylanta. Hidup gw dipaksa teratur.
Blog oh blog…
Selamat Tahun Baru!
Sudah masuk minggu kedua 2008, kesehatanku masih belum pulih benar. Masih parade batuk dengan Dewi dan Bang Rudi di kantor. Disusul darah rendah yang mulai memaksaku cepat-cepat duduk dan beristrirahat.
Hari ini Amang Harahap ke kantorku. Ke Palembang lagi. Tiba-tiba Amang Harahap mengingatkan aku pada blogku yang sudah lama tidak di-update. "Iya Amang. Lagi gak ada ide." jawabku. "Yah, tulis aja apa yang ada di pikiranmu."
Ya benar. Menulis blog adalah menulis paling mudah. Tak ada dateline, tak ada paksaan topik, tak ada batasan ide, tak perlu memikirkan perasaan orang, hahaha….
Aku masih suka membaca blog-blog favoritku. Membaca puluhan postingan, membuatku bersemangat ingin membuat blogku menyenangkan untuk dibaca seperti blog-blog itu. Tapi lagi-lagi, menunda-menunda menulis membuat semangat 45 itu menjadi "masuk angin". Dan sepertinya aku sedang tidak bisa menulis di kantor, semua karena penyakit "menunda-nunda" itu tadi. Masih banyak sisa kerjaan dari tahun Babi.
Sebelum menulis postingan ini, aku membaca blognya Amang Harahap. Hei, ada namaku di blogroll-nya. Hm… promosi gratis nih! Niatku untuk membuat blogku jadi menyenangkan muncul lagi. Mudah-mudahan tidak melempem lagi.
Yah, aku akan menulis lagi. Tak perlu topik yang berat-berat kan?
Ayo semangaat….