Mimpi…
Masih ingat postinganku tentang mimpi?
Buat yang belum sempat baca, silahkan baca postingan sebelum ini
Tadi malam aku menulis. Yah, chit chat biasa… Ungkapan rindu, pembicaraan dengan mami, hal-hal standar.
(Lagi-lagi) Aku membuka halaman2 sebelumnya. Mataku terhenti di suatu halaman, baris paling atas, "Tadi malam aku bermimpi Ian pergi…"
Aku tak meneruskan membaca, karena aku masih ingat bagaimana lanjutannya. Aku tak tahu harus berfikir apa.
Tadi siang Ian reserve tiket ke ujung pandang.
"Abang diklatnya di sana,dek…"
"Abis diklat abang pulang?"
"Enggak. Abang langsung ditempatin di wilayah sana…"
"Trus… hubungan kita gimana,Bang???" (boong… aku ga nanya gitu…)
"Trus… cokelat kejunya kapan dong,bang….?"
"Mudah2an lebaran nanti ada liburnya ya…"
Aku hampir menjawab, "Belum tentu saat itu semuanya masih kayak gini,Bang….."
Yeah, intinya bukan itu.
Ian leaves.
Salah satu mimpi2 itu jadi kenyataan. Lagi-lagi dadaku sesak tadi malam.
Aku tak ingin mimpi yang lain juga jadi kenyataan…
Thursday’s Cries
Hai.
Kalian pernah menangis? Pasti. Banyak sebabnya. Tapi kalau menangis tanpa sebab? Aku tak yakin para pria melakukannya. Tapi kalau wanita bisa begitu. PMS biasanya.
Dua Kamis terakhir ini aku menangis. Tidak. Aku tidak sedang patah hati, putus cinta, disakiti atau sedang banyak masalah. Tidak sama sekali.
Kamis minggu lalu, pulang kantor lebih malam dari biasanya. Mandi, makan, masuk kamar. Sambil menanti telepon dari seseorang, aku putuskan bercerita di buku harianku. Ada banyak hal yang ingin aku tuliskan. Entah kenapa, aku menyingkatnya hanya dalam satu halaman. Lalu aku membuka lembar-lembaran sebelumnya.
Ada cerita sedih di sana. Tapi tak semua. Juga cerita bahagia. Doa-doaku untuk orang-orang yang kusayangi, kebahagiaanku saat teman-temanku bahagia. Aku membaca. Tanpa tahu kenapa, aku mulai menangis. Sungguh, aku tak tahu kenapa. Itu tangisan yang tidak baik. Kalian tahu kan, ada tangisan karena senang dan bahagia, ada juga tangisan karena sakit, sesuatu yang buruk. Aku tak berusaha menghentikan air mataku. Aku terus menangis sampai air mata itu kering sendiri.
Setelah itu aku ingin sekali berbincang dengan seseorang. Yah, seseorang yang harusnya meneleponku malam itu. Bukan untuk curhat atau mengadu. Hanya ingin mendengar suaranya. Ingin sekali.
Tapi tidak. Malam itu aku tak mendengar suaranya. Saat menutup mata, aku berkata dalam hati," Aku tak apa-apa. Aku hanya mellow. Aku hanya sedang sensitif."
Lalu aku tertidur.
Kamis yang lalu, aku juga menangis sendiri di kamar. Dua malam sebelumnya, aku bermimpi. 2 malam berturut-turut. Dalam mimpi aku ditinggalkan seseorang. Mimpi pertama, kue cokelat pergi. Mimpi kedua, Ian yang pergi. Tidak, mimpi-mimpi itu bukan mimpi buruk yang menyeramkan. Kami bersenang-senang malah. Tapi aku tahu akhirnya mereka pergi. Malam itu, entah kenapa, mimpi-mimpi itu tak mau pergi dari otakku. Aku mulai menangis, aku gemetar dan dadaku sesak. Aku takut. Aku takut ditinggalkan. Bukan oleh mereka berdua saja, aku takut orang-orang yang aku sayang dalam hidupku satu per satu pergi.
Tidak,Tuhan. Jangan, Bapa…
Aku menangis di bawah selimut. Aku sangat ketakutan malam itu. SMS yang dikirim kue cokelatpun tak mampu mengiburku. Aku bangun dan mengaca. Seorang gadis, berantakan, mata merah, pipi basah, menatapku.
Cewek konyol. Nangis karena mimpi. Konyol.
Rutukku dalam hati. Aku duduk di tempat tidur. Mencoba tak berfikir. Tak merasa. Saat otakku mulai kosong. Aku putuskan melanjutkan malam di luar kamar. Meninggalkan si gadis konyol tetap di bawah selimut.
Puisi Rindu
Hujan…
Ayo turun….
Saat itu waktu hujan
Dia muncul di depan pintu rumahku
Basah, dingin dan tertawa
Saat itu waktu mendung mulai menggantung
Udara dingin mulai menggigit
Dia mendekapku hangat
Di saat hujan telah usai
Saat busur warna membentang di langit
Dia tersenyum padaku
Saat aku telah meringkuk hangat di bawah selimut
Mendengar gerimis kecil bernyanyi
Dia mengirim senyum bulan untukku
Hujan…
Datanglah sekali lagi…
Sebentar saja…
Kumohon…
Maukah kamu bersamaku sepanjang hidup?
You could have been anyone at all
A stranger falling out of the blue
I’m so glad it was you
(Carole King - Anyone At All)
Kamu, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?
Tanya ini kadang-kadang saja muncul di kepalaku. Pagi hari. Saat menghabiskan sarapan dan membalik-balik koran pagi sebelum bertolak ke kantor.
Kamu … kamu mungkin tengah menikmati selapis roti bakar yang dibelah segitiga dengan lapisan nutella tebal di tengahnya. Ada teh manis hangat. Dan musik mengalun. Atau, kamu masih meringkuk di tempat tidur. Dengan selimut menutupi sebagian tubuhmu. Dan meringkuk lebih ringkuk, menghindari matahari yang mencoba menyelusup dari balik jendela kamarmu. Atau …
Kira-kira apa yang kamu kerjakan sekarang?
Tanya ini tiba-tiba saja hadir saat jeda pekerjaan. saat tenggelam dalam lalu lintas Jakarta dan memandang orang-orang lalu lalang. Apa yang sedang kamu kerjakan?
Kamu … kamu mungkin tengah membuat sketsa rancangan (kamu bisa saja bekerja di sebuah perusahaan pengembang dan sedang merancang hunian mungil di pinggiran Jakarta). Atau, kamu mungkin sedang membacakan cerita untuk anak-anak kelas tiga, saat ibu guru mereka absen, kamu menyisihkan waktumu untuk mengunjungi kelas sebelah (ya, kamu bisa jadi seorang guru). Mmm … mungkin kamu tengah berada di sebuah jumpa pers dan menunggu dengan sabar sampai narasumber yang ingin kamu temui turun dari mimbar (siapa tahu kamu ternyata jurnalis ), atau kamu tengah mengitari kebun kentang di Pengalengan. Menyelam di Taman Nasional Wakatobi. Menonton tayangan ulang sepak bola tadi malam. Menghabiskan teh tarik di sela-sela tugas kemanusiaan di Aceh sana. Ah, kamu … mungkin juga sedang memotret , menyelesaikan esay foto tentang kisah anak-anak di pinggir rel. Atau sedang menyelesaikan sebuah patung (kamu … mungkin tidak ya kamu seorang perupa?). Atau menulis. Atau memangkas rumput halaman belakang. Atau tertawa. Atau berada di ruang tengah rumahmu, dengan celana pendek dan kaos, bercanda dengan hewan peliharaan, makan pisang goreng, bersantai sepanjang siang karena saat ini kamu tidak sedang menggarap iklan (siapa tahu kamu bekerja di rumah produksi). Atau sedang meracik bumbu nasi goreng. Belajar bahasa perancis. Main futsal. Menyelesaikan desain untuk kaos pesanan. Mengepel lantai kamarmu. atau …
Ternyata ada banyak hal yang mungkin tengah kamu kerjakan ya. Lucu juga memikirkannya saat ini. Kamu pasti bahagia. Semoga kamu orang yang menyenangkan. Lembut hati.
Kamu tahu, suatu hari nanti, aku akan jatuh cinta pada setiap apa yang ada di dirimu. Kamu juga begitu. Jatuh cinta padaku. Dan kita akan melakukan banyak hal bersama. Kita, berdua. Satu hari nanti, entah bagaimana caranya, kita akan bertemu.
Kita, satu hari nanti, akan melakukan banyak hal bersama. Merasakan nyaman yang tumbuh secara perlahan. Dan sampai pada satu titik
ketika aku
atau kamu
di satu senja yang hangat, berucap:
setelah ini, maukah kamu makan siang, atau minum kopi, atau menonton DVD, atau membaca buku, atau lari pagi, atau ke bukit, atau mandi hujan, atau menonton konser musik, atau memandang bintang, atau berkemah di akhir pekan, atau pergi ke taman kota, atau ke pantai, atau ke pelabuhan tua jelang sore, atau memanen senja, atau ke kebun bunga, .. atau apa saja, bersamaku? sepanjang hidup? sampai ujung umur kita?
Satu hari nanti, entah bagaimana caranya, kita akan bertemu dan merasakan nyaman yang tumbuh …
(Diambil dari www.negeri-senja.com)
Reunian sepi…
Gw sebel.
Kemaren 17 Juni, rencananya anak2 kelas 2.1 Smun 1 Bekasi 1999-2000 mo pada ngumpul di rumah enri. Tepat jam 2 siang, sesuai undangan, gw udah nyampe di rumah enri yang masih dipel karena ujan. Ngobrol (atau ngegosip lebih tepatnya) ngalor ngidul. Gak lama partner panitia gw, Palka dateng. Disusul Beto dan Dewi gak lama kemudian.
Jam mulai menunjukkan pukul 3, waktu gw dan Palka mulai sibuk memencet ponsel dan minjem telepon rumah enri. Ada yang gak diangkat, ada yang tiba2 aja gak aktif, macem-macem deh. Ini salah satu perbincangan aneh.
"Deris gimana,Pal?"
Deris itu masuk jatah Palka dalam info-menginfo.
"Coba loe telepon aja ke rumahnya"
Gw memencet deretan nomor yang dihapal Palka di luar kepala.
"Assalamualaikum…."
"Walaikumssalam. Derisnya ada Bu?"
"Dari siapa ini?"
"Eci,Om" Boong deng…
"Imme, temen sekolahnya"
"Derisnya udah…."
Gw berharap jawabannya,"…jalan dari tadi. Mau reunian katanya."
"…di Irian."
Gedebug….. Deris… kurangkah wanita cantik di pulau jawa ini?
"Oh… bisa minta nomor handphone-nya,Bu?"
"081*********"
Huh… kurang satu lagi.
Dan satu lagi, pelatih paduan suara kami. Trio Hendarwin.
"Halo… Trio lagi di mana?"
"Hahaha… di Jogja…"
Lagi2 dia ngajak berantem. 2 hari sebelumnya dia udah confirm mo dateng.
Sampai akhirnya reuni kami putuskan berakhir, formasi diatas tak bertambah.
Apakah kami kecewa?
Jelas. Apalagi gw (dan mungkin Palka, secara dia sempet stress mikirin yang dateng byk atau enggak). Gw juga sangat2 gak enak sama nyokapnya Enri, yang udah mau repot2, mesen makanan segambreng buat menyambung hidup kami.
Apakah kami menyesal?
Jelas tidak. Berlima pun kami masih bisa tertawa. Bahkan Palka sempet mo sms-in anak2 nyuruh gak pada dateng aja. Berlima pun, reuni kami rame.
Sebelumnya, Beto pernah mengajukan reuni ke puncak atau ke anyer. Seandainya hal itu terjadi, kami membayangkan dengan 5 orang ini kami ke Puncak dengan persiapan 40 orang. Bus AC 54 seat. Gw di depan, Dewi di tengah, Enri di belakangnya, Palka paling belakang, Beto di samping supir. Dengan spanduk "REUNI MEDUSA. KELAS 2.1 SMUN 1 BEKASI 1999-2000" menempel di sisi bus, kami ditertawakan rombongan karya wisata SD di bus sebelah.
Nasi kotak yang sudah dipersiapkan untuk makan malam setibanya di tempat, harus kami makan 9 kotak per orang.
Saat pembagian kamar, kami boleh tidur di 4 kamar yang berbeda dalam satu malam.
Dan terakhir, waktu mau pulang, ada sesi pemotretan dengan spanduk. Berdiri berjajar, 5 orang memegang spanduk lebar dengan latar belakang pemandangan indah gunung2.
Sebagian besar anak2 yang tidak datang minta dikirimin foto2 hasil reuni. Gw berencana tetep ngirim photo2nya. Photo pertama, photo gw, berikutnya Palka, berikutnya photo piring bekas makan kami, yang ternyata lebih banyak dari orangnya, berikutnya Beto, trus gw sama enri, trus beto makan semangka, trus dewi, trus palka sama dewi sama beto, trus beto sama enri, trus gw sama palka, trus gw sama beto, trus dewi sama enri sama palka, trus photo berlima, trus gw lagi, trus…..
Hahaha…
"Ikatan alumni kita kurang kuat,Me…"
Kata Palka waktu nganter gw pulang. Jiwanya ITB banget gak sih, pake ikatan alumni segala.
"Emang gini mulanya… sepi dulu…"
"Asal kitanya jangan nyerah aja…."
Yeah… liat ntar lah,Pal…
24 tahun 40 hari
" Nama, Imelda Dien Putri, umur 24 tahun 10 hari…"
Itu sebagian dari hasil perhitungan data gw di komputernya Hendra yang dia bacain via telfon tadi malem.
"40 hari?"
"Iya, 40 hari…"
25 April baru berlalu selama 40 hari. Gw tertawa dalam hati. Baru 40 hari? Gw agak2 gak percaya. 40 hari yang lalu gw di mana, sekarang gw di mana…
Kayaknya 40 hari terakhir ini gw lari deh….