Boseen…
Hari ini sabtu, april 28 2007. Tadi pagi gw dapet hadiah tas elizabeth (dengan bon masih di dalam. hahaha…) dari cantik indonesiaku di depok. Hai semua… Love you girls…
Gw sih gak bersemangat hari ini. Gak tau deh sebabnya apa. Apalagi ada 2 makhluk ganjil datang ke kantor
Tadi malem gw udah membatalkan satu janji sama Tulangnya Ancy buat malem ini, dan tadi pagi pun gw gak mau waktu temen lama gw ngajak jalan, tau ga karena apa?
Hari ini salah satu temen baru (apa itu temen baru??) gw berulang tahun. Beberapa hari yang lalu, tepatnya sehari sebelum ulang tahun gw, dia berjanji untuk mengusahakan hari sabtu ini di hari ulang tahunnya mau ke tempat gw karena di hari ulang tahun gw dia gak bisa datang.
Oke, berpegang pada janji yang kemungkinannya sangat kecil untuk terealisasi itu gw membatalkan ajakan-ajakan menarik lainnya itu.
Tapi yang terjadi adalah… dia tetap gak bisa dateng hari ini…
Huh… sudahlah…
Anyway, Met ulang tahun yang terakhir dengan angka 2 di digit pertama umur lo ya, Dad….
Angka 2, angka 4 dan angka 5
Pagi ini, gw melakukan must do in the morning gw. Ngecek FS
. Setelah membaca beberapa pesan, dari Iby, curhat masalah percintaannya, dan beberapa temen lain, trus approve beberapa comment, dan friend request, gw preview profil gw. Dan gw ngeliat ada perubahan yang gak gw lakukan. Digit kedua di umur gw berganti menjadi angka 4. Jadi mulai kemarin gw resmi menjadi wanita berusia 24 tahun dengan status single.
24, 24, 24. Gw harus terbiasa dengan angka itu setahun ke depan. Apa beda seorang Imme di 24 dengan di 23 atau 22? Kalo dilihat pake mata, nyaris gak ada. Gw masih di sini-sini aja, gw gak tambah tinggi, gak tambah gemuk, gak tambah mancung, tetep jomblo (oops…), yah gitu deh. Orang liat permukaan kolamnya tetap sama tenang dengan tahun-tahun lalu. Tapi, benda-benda di dasar kolam itu tidak pernah sama seperti dulu. Mungkin gw belum beranjak ke mana-mana, mungkin gak ada perubahan signifikan pada penampilan gw, mungkin gak ada kemajuan mencolok dalam marital status gw, tapi persahabatan, penghargaan, tawa, air mata, kesalahan, pengampunan, kasih, penolakan, dan segala yang terjadi setahun terakhir ini membuat gw gak sama kayak dulu-dulu.
Gw yang sekarang lebih tau kalo hidup gak sederhana. Hidup bisa banget jadi rumit meski kita gak menginginkannya. Gw lebih bisa mengerti kenapa orang-orang bisa melakukan kesalahan yang dulu gw kira konyol. Gw bisa ngerti apa artinya tubuh dan otak tak sejalan, mulut dan hati bisa berbeda. Gw bisa merasakan kenapa orang yang paling rasional sekalipun bisa kehilangan akal sehat. Dan yang pasti, tiap kali gw jatuh, itu gak akan pernah sia-sia, dan ada banyak banget orang2 di sekitar gw yang selalu mau mengulurkan tangan, untuk ngebantu gw berdiri lagi…
Yah… kalian tau kalian siapa…
Terimakasih…
10 Days Relation
Postingan ini aku tulis khusus untuk teman-temanku yang mempedulikanku di luar sana. Aku agak malas menceritakan hal yang tidak menyenangkan berkali-kali. Menjawab pertanyaan yang sama berkali-kali. Jadi aku tulis saja. Aku sangat tidak menganjurkan kalian membaca tulisan ini bila kalian tidak benar-benar sayang dan peduli pada perasaanku. Percayalah, bagi kalian cerita "oh mama oh papa" ini sangat tidak menarik.
Jama
Aku mengenalnya pertengahan bulan lalu. Berisik, banyak bicara, banyak cerita, dan lumayan tampan. Setiap pagi, disempatkannya duduk di depan mejaku. Bercerita tentang pacarnya dan masalah-masalah mereka karena beda keyakinan, atau tentang keluarganya, atau hanya sekedar merequest satu lagu dari komputerku.
Sungkat cerita, kami menjadi teman cerita, teman jalan. Menggandeng tanganku di pusat perbelanjaan, berkunjung ke rumah teman dan saudara-saudaranya.
Kencan Penjangkauan
Sampai suatu saat, setelah bertengkar hebat lalu putus dengan pacarnya, di malam yang sama dia sms menyatakan bahwa dia menyukaiku. Dalam keadaan sekarat sekalipun, aku takkan menerima penyataan perasaan seperti itu. Berkali-kali setelah malam itu, aku menjelaskan alasan mengapa aku tak dapat menerimanya. Dalam semua percakapan kami, minimal sekali dalam 10 menit dia menceritakan tentang wanita itu. Aku membayangkan, wanita mana yang siap jadi kekasih pria seperti itu. Hanya sahabat yang bisa mendengarkan semuanya tanpa ada tambahan perasaan apa-apa. Jadi aku tulus menawarkan persahabatan padanya. Namun bertemu setiap hari, mendengarkan semua masalah-masalahnya, menerima semua perhatiannya, telepon-telepon tengah malamnya, membuat aku berkali-kali ingin merubah keputusanku. Sampai pada suatu malam aku mengambil semua resiko terluka yang sangat mungkin, bahkan pasti, kudapatkan. Aku menjawab iya.
Alasan yang kukatakan padanya adalah karena aku sedang sendiri, dan mengapa tidak aku mencoba. Padahal alasan yang paling kuat dan hanya aku sendiri yang tahu, adalah aku merasa Tuhan mengirim dia masuk ke hidupku bukan karena kebetulan. “Kencan penjangkauan” adalah hal pertama yang terlintas di otak kecilku. Jauh sebelum itu, di hari Jumat Agung, di gereja, dia menangis tersedu di sampingku. Saat itu sambil menggenggam tangannya, aku berdoa, kalau saja apa yang dia rasakan bisa dibagi denganku. Aku mulai menyadari aku peduli padanya. Selain itu, he’s the black sheep in the family. Selalu bertengkar dengan orang tuanya, selalu jadi pihak yang disalahkan membuat dia tak betah di rumahnya sendiri. Aku merasa ada rasa rendah diri dalam jiwanya. Tak hanya sekali aku melihat air mata di pipinya. Suatu saat dia mengatakan ingin kembali ke Tuhan. Sejak bersama wanita yang berbeda keyakinan, dia jarang ke gereja. Mengajaknya ke gereja dan selalu memimpin doa saat kami makan bersama adalah hal pertama yang kulakukan. Otak “sok pahlawan”-ku lah yang berfikir, kalau aku tidak bersamanya, entah apa yang akan dilakukannya di luar sama, entah dengan lingkungan yang sperti apa. Hal itulah yang membuatku memutuskan menerimanya.
Entah kapan sebenarnya aku pernah merasakan kebahagiaan saat dengannya. Dia masih saja menceritakan wanita itu. Karena statusku telah meningkat dari teman menjadi pacar, aku rasa sangat wajar kalau aku merasa sedih dan sakit. Tapi secuilpun aku tak menyuruhnya berhenti bercerita. Aku di sini untuk mendengarkan segala cerita dan sakitnya. Termasuk semua kehancuran hatinya tentang wanita itu. Selain itu, ada banyak hal dalam dirinya yang sangat tidak berkenan di hatiku sebenarnya. Dia sangat egois, aku tak pernah boleh menyentuh ponselnya, tapi setiap ponselku berdering, dia langsung merebut dan membaca sms yang masuk. Kalau kebetulan dia mendapatiku sedang on line telepon, dan tertawa-tawa, dia pasti langsung akan mencurigaiku. Tapi dia, minta nomor ponsel perempuan lain di depan hidungku. Rentetan tuntutannya padaku tak pernah habis. Jangan terlalu dekat dengan Bang Rudi, kalau ke mana-mana bilang dulu, jangan sms laki-laki lain. Apa aku pernah protes? Not in this life. Moody, temperamental. Aku sadar itu adalah dirinya. Saat aku memutuskan mengatakan “iya”, berarti aku menerimanya beserta masa lalu dan semua kekurangannya.
Aku mulai mengenalkannya pada teman-temanku. Dan semua melihatku dengan tatapan apa-lo-udah-gila-pacaran-dengan-orang-kayak-gini. Dalam hubungan kami, aku selalu berada di posisi pendengar. Aku nyaris tak pernah bercerita apa-apa tentang hidupku. Aku sangat sadar, dia tak cukup cerdas untukku. Kata-kataku jarang langsung dimengertinya. Dan kalaupun dia mengerti, dia tak tahu harus menjawab apa. Makanya aku malas berbagi pikiran dan mimpi-mimpiku padanya.
Sakit, jengkel, dan makan hatiku semakin menumpuk. Aku mulai merencanakan kapan waktu terbaik untuk lepas dari pria ini. Awal May dia akan ke Pontianak, untuk kerja di sana. Yah, aku tahu sekali dia bukan tipe pria yang bisa berhubungan jarak jauh. Begitu juga aku. Jadi cepat atau lambat bila dia sudah di sana hubungan kami akan meregang dan putus dengan sendirinya.
Entah bagaimana, suatu malam, aku bertanya padanya, kalau dia sudah jauh dariku, apakah aku masih berguna untuknya. Dan dengan jujur dia katakan tak yakin bisa menjaga hubungan kami. Malam itu kami membuat perjanjian, saat dia pergi, itu adalah akhir hubungan kami. Di sana dia bebas mencari wanita lain, begitupun aku. Dia bertanya apa itu berlaku jika dia kembali pada wanita cinta sejatinya itu. Aku mengiyakan.
Pernikahan Bang Peter
Jumat, 20 april 2007. Kakak laki-lakinya menikah. Aku berjanji akan datang. Akupun tahu wanita itu akan ada di sana juga. Sejak aku masih di jalan, berkali-kali dia menanyakan aku sudah sampai mana. Setibanya di sana, dia hanya tersenyum dari jauh, dan duduk di dekat beberapa wanita. Hanya satu yang aku kenal. Lani, saudaranya. Akupun mengasumsikan wanita berkebaya yang lainnya itu juga saudara-saudaranya. Dia nyaris tak menghampiri di mana aku dan temanku duduk. Sepanjang acara, dia dan wanita-wanita itu saling bercanda, berfoto, tertawa-tawa sendiri. Sampai suatu saat dia mengajak kami bergabung. Akupun memutuskan untuk duduk di antara mereka. Tapi sama sekali kami tak saling diperkenalkan. Aku hanya jadi penonton pertunjukan mereka. Semakin sore, satu persatu mereka turun untuk pulang. Hanya tinggal aku, Ancy, dan Onyx. Keponakannya. Tiba-tiba aku dapat pencerahan. Salah satu dari wanita tadi adalah mantan pacarnya. Wanita yang paling kalem dari yang lain. Tadi dia menyebut dirinya orang Jawa, dandanannya hasil salon (aku sempat membaca smsnya, kalau dia akan menyewa baju dan dandan di salon), seorang undangan biasa sangat jarang berkebaya dan bersalon. Dan ketika saudara-saudara bataknya itu ingin foto bersama, salah seorang dari mereka bertanya pada wanita itu, “Pinjam ya!”. Karena aku duduk di samping wanitu itu, otak miniku berfikir kalau akulah yang sedang diminta izinnya. Mereka tahu kalau wanita itulah kekasihnya, bukan aku. Aku hanya mempermalukan diriku sendiri di sini. Aku menyadari semua saat tak ada lagi orang-orang di balkon. Tak sadar, aku mulai menangis di sana. Aku ceritakan semuanya ke Ancy. Dia hanya diam dan mengusap punggungku. Si kecil Onyx mulai menyadari aku tak lagi ikut bermain dengannya. Dia menghampiriku dan bertanya, “Tante Imel kenapa nangis?”. Ancy yang menjawab,”Ada yang nyakitin hati Tante Imel. Tapi Tante Imel gak bisa cerita ke Onyx sekarang.” Entah mengerti atau tidak, gadis manis berusia 4 tahun itu mengangguk. Lalu dia menatapku lama, dan mulai menghapus air mata di pipiku. Aku tersenyum dan terharu. Menurut tulangnya, Onyx adalah teman curhat dengan empati yang tinggi. “Onyx jangan bilang tulang Jama ya.” Pintaku. Lagi-lagi dia mengangguk.
Puas menangis di sana, aku muak dengan seluruh pesta ini, dengan semua orang-orangnya. Aku tak ingin berada di sana lagi. Aku ingin pergi. Sebelum pulang, Onyx ingin aku temani ke toilet. Sambil menenteng ulos yang ditinggalkannya di kursi (dasar laki-laki, kami para wanita Batak sangat tahu kalau ulos jangan ditinggal di tempat umum) aku, Ancy, Onyx dan 2 babysitternya turun ke bawah. Di depan meja penerima tamu, aku melihat dia dan wanita itu duduk berdekatan. Melihat kami datang, dia langsung berdiri dan pura-pura sibuk. Kami hanya melewati mereka dan langsung menuju toilet. Di toilet, aku berkata pada Onyx,"Nyx, tante kan pacarnya Tulang Jama." Gadis kecil yang sedang jongkok membelakangiku itu, langsung menoleh dan bertanya kaget,"Masa?" Aku tertawa melihat responnya yang terlalu dewasa itu. "Bukannya Mbak Dewi?" Aku menghela nafas. Sampai anak sekecil inipun tak percaya akan hal itu. Percuma aku menjelaskannya, otak mudanya belum bisa mencerna kata-kataku. "Onyx lebih suka pacar Tulang Jama siapa? Tante Imel atau Mbak Dewi." tanyaku entah untuk apa. "Tante Imel lah…" Lagi lagi aku tertawa di bilik sempit itu. Aku tak yakin jawabannya akan sama kalau wanita itu yang sedang bersamanya sekarang, melepas dan mengenakan celananya.
Dari toilet kami kembali ke tempat di mana dia duduk bersama wanita itu. Kali ini sudah ada orang lain di antara mereka. Sambil mengembalikan ulos yang dari tadi kupegang, aku pamit padanya. Dia menatapku. Aku tahu arti tatapan itu. Rasa bersalah. Yah, setidaknya itu yang kuharapkan. Setelah mencium kedua pipiku, Onyx bertanya dengan kencang,"Tulang…Tulang… sebenernya pacar Tulang siapa sih? Tante Imel ato Mbak Dewi?" Oh my God… Aku dan dia saling menatap tak percaya. Lamat-lamat kudengar Ancy berkata pada Onyx,"Onyx, biar Tuhan yang ngasih jawaban doanya ya…" Kudengar Onyx mengiyakan. Aku pulang.
Di jalan dia masih sempat mengirimkan sms,"Beb, kamu marah sama aku?" Aku balas tidak. Memang aku tidak marah padanya. Ini jalan yang aku pilih sendiri. Resikonya aku rasakan sendiri. Dia tidak salah. Aku tahu dari awal.
Setengah dua pagi dia menelepon. Hal pertama yang kutanyakan, apakah dia dan wanita itu sudah kembali bersama. Dia jawab sudah. Aku menangis. Sampai jam 3 pagi, dia mendengar isakanku sambil memberi petuah-petuah. Kita tetap berteman ya, aku gak mau kita musuhan, jangan jadi males makan ya, jangan sampai sakit ya, aku tetap akan ngerayain ulang tahun kamu, jaga diri ya, doain aku ya, jadi imel yang dulu ya (sampai sekarangpun dia tak pernah memanggilku "ime"), tetap dekat sama Tuhan ya, jama juga bakal inget semua kata-kata kamu, jama akan tetap berdoa kayak yang kamu ajarin. Dalam hati aku mengamini semuanya.
Akhir tangisanku
Keesokan harinya, Sabtu, aku berdandan secantik mungkin ke kantor. Rok jeans mini, kaos coklat, high heels. Aku ingin tunjukkan aku tak berlarut-larut bersedih. Aku cerita pada Dicky. Dia sama sekali tak percaya. Yah, aku pernah mengerjainya dulu. Saat sedang mencetak tiket, tiba-tiba air mataku mengalir. Aku menangis di mejaku. Untunglah tidak ada customer. Aku yakin Dicky yang berada di sampingku tahu persis aku menangis, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Melihatnya datang ke kantor dengan wanita itu adalah hal terakhir yang ingin kulihat. Dan itu yang terjadi. Sambil merangkul erat pinggangnya, wanita itu duduk dengan eloknya di motornya. Melewati ruanganku, sambil berkata ringan,"Selamat siaang…" mereka naik ke lantai 2. Oke cukup. Aku tidak akan pernah bisa lebih malu dari sekarang ini. Aku ke pantry dan menangis sendirian. Hampir 2 jam aku menangis di sana. Berganti-ganti orang-orang berlalu lalang di pantry. Termasuk Dicky yang mengatakan aku bodoh jika terus menangis untuknya. Tak lama, dia datang ke pantry. Memperkenalkan wanita itu padaku. Tuhan… mengapa dia tidak berperasaan sama sekali. Mereka pulang. Aku menangis lagi. Teman-teman kantorku berusaha menghiburku dengan membandingkan wanita itu denganku. "Ya elah, lo lebih putih, lebih cantik, lebih sexy, dan gw rasa jauh lebih pintar. Apa sih dia? Sebenernya Jama mau mempermalukan elo atau ceweknya sih?" Aku hanya bisa tersenyum.
Pulang kantor, aku ke rumah sahabatku 10 tahun terakhir ini. Menceritakan semua padanya, mendengar makian dan umpatannya, menerima nasihatnya, membuat aku semakin yakin aku terlalu berharga untuk membiarkan diriku disakiti lebih lagi. Yah, dunia tahu, he wasn’t man enough for me. Aku berhak mendapat perlakuan baik dari seorang pria yang jauh lebih berharga.
Pesan Moral
Erni sahabatku itu, setia mendengar semua isi hatiku. Aku berkata padanya,"Ni, dari awal gw tahu dia gak cukup baik untuk gw. Gw tahu gw gak pernah ada di hatinya. Dan hubungan kami hanya sebentar banget. Tapi gw udah bisa sayang sama dia sampai bisa tersakiti kayak ini. Gimana nanti gw ketemu orang yang pantas untuk gw sayangin sepenuh hati gw, dan dia menyayangi dan nerima gw apa adanya, dan kami berhubungan dalam waktu yang lama…. Berapa besar energi cinta yang bisa keluar dari gw ya…?"
Aku bersyukur Tuhan telah memberi aku hati yang bisa menyayangi seseorang dengan dalam dan tulus. Dan aku bangga akan hal itu. Hal yang tidak bisa diambil siapapun dariku.
Lately…
Akhir2 ini gw emang ngerasa capek. Udah seminggu ini gw pulang malem, abis itu masih juga begadang. Tapi bukan tiada artinya :).
Sebenernya gak ada hal yang penting2 amat gw lakukan. Cuma naik motor sama Jama, keliling2 gak jelas. Makan, ngobrol, ke rumah temen2nya. Pulang hampir jam 12, stengah 1 telfon2an sampe jam 2 (thanks to Bakrietel), langsung tidur. Bangun pagi lagi. Begitu terus. Malah malem minggu kemarin kita ada party (alah…. gaya lo,Me…), nginep di kantor rame-rame.
Gw dah lama gak nonton TV, dah lama ga ngobrol ma adek gw, ma mami, dah lama gak nyuci piring, bahkan gw ga ada waktu bwt ngisi buku harian gw. Temen2 gw yang lain juga mulai ngerasa kehilangan gw. Karena gw gak selalu available tiap mereka butuhin gw.
Ah… Apa gw berlebihan ya?
Bulan depan dia juga udah gak di sini lagi. Mungkin saat itu hidup gw bisa "normal" lagi.
Lelah
Hari ini hari Senin, 9 hari menuju ulang tahunku.
Harusnya aku bahagia saat ini.
Harusnya senyum tak berhenti mengembang di wajahku.
Harusnya mataku berbinar.
Harusnya dadaku ringan saat menghela nafas.
Tapi saat ini,
Aku sedih.
Aku sakit.
Aku kecewa.
Aku terluka.
Aku sepi.
Aku ingin menangis.
Tuhan tahu aku lelah…
Jatuh Cinta Pada Sahabat
Apa yang kamu lakukan jika kamu sedang jatuh cinta? Kalau saya, jelaslah, berusaha memberi clue pada yang saya jatuhi cinta, buat apa coba jatuh cinta tapi membiarkan target tidak tahu perasaan saya?
Pernah jatuh cinta pada sahabat? Saya pernah. Sedang jatuh cinta malah. Eh salah, selalu jatuh cinta terus dan terus pada Sahabat saya yang ini. Kadang saya bingung, kenapa selalu Dia dan Dia lagi yang ada dalam pikiran saya, sejak kecil. Dan sekarang, saya berencana untuk memberitahukan perasaan pada Sahabat saya yang luar biasa ini.
Sial, kok deg-degan ya? Ndeso banget.
Hati saya diliputi keraguan ketika berdiri di depan pintu ruanganNya. Bilang apa enggak?
“Hey.”
Hampir saya terlonjak ketika ternyata Ia membuka pintu ruanganNya, bahkan sebelum saya sempat mengetuk.
Sial. Kalau sudah tertangkap basah seperti ini, masa mau lari? Lebih ndeso lagi nggak sih itu?
“Masuk.”
Ia mempersilahkan saya masuk. Maka saya pun menurut, memasuki ruanganNya. Ia tampak sedang sibuk, entah ngapain. Sering saya bertanya-tanya, apa Ia nggak pernah capek dan bosan dengan kesibukanNya? Tapi yang mengherankannya, Ia selalu punya waktu untuk saya.
“Ada apa?” tanyaNya.
“Sibuk?” saya tidak langsung mengajukan apa yang ingin saya bilang.
“As always.”
“Ada waktu buat saya?”
“Kapan Saya nggak ada waktu buat kamu? Sini.”
Ia memberi tanda agar saya mendekat. Maka saya pun mendekat dan duduk di sisiNya. Tuh kan, apa saya bilang. Dia selalu punya waktu.
“Kenapa?” tanyaNya.
“Nggak apa-apa.” Saya menggeleng.
“Kangen?” tembaknya.
Ditodong seperti itu saya langsung tersipu.
“Nggak usah malu, sama dong, Saya juga kangen..”
Ia merengkuh bahu saya dengan lembut. Selama beberapa jenak, saya biarkan diri ini menikmati rangkulanNya. Dia memang sahabat saya. Yang selalu berhasil membuat saya merasa nyaman di setiap waktu, tanpa perduli saya sedang gembira, sedih, marah, jengkel, susah, senang, bahagia, sudah mandi, belum mandi, sakit, sehat dan seterusnya.
Sebentar.. tadi saya bilang apa? Dia sahabat saya?
“Mmm, mau nanya, nih…” cetus saya tiba-tiba, terlupa sudah niat saya untuk menyatakan perasaan.
“Apa?” Ia melepas rangkulanNya.
“Cuma mau nanya. Apa sih arti sahabat itu?” Tanya saya.
“Yang tidak pernah meninggalkan kamu – selalu ada di sisi kamu, tanpa perduli kamu sedang gembira, sedih, marah, jengkel, susah, senang, bahagia, sudah mandi, belum mandi, sakit, sehat dan seterusnya.” Jelasnya panjang lebar.
“Oh gitu.” Saya mengangguk-angguk. Jelas sudah, Dia memang sahabat saya.
“..oh ya, dan yang mau berkorban untuk kamu…” imbuhnya.
“Gitu ya.” Saya terdiam, tercenung lama.
Sudah jelas, tidak perlu diragukan lagi, Dia adalah sahabat saya. Tapi..
“Kenapa tanya-tanya?” pertanyaannya membuyarkan lamunan saya.
“Nggak apa-apa..” saya menggeleng.
Tapi apakah saya, sahabatNya? Apakah saya selalu ada di sisiNya? Apakah saya mau berkorban sepertiNya? Tanya saya dalam hati. Ia tersenyum. Saya menduga, ia telah membaca pikiran saya.
“Dasar mind reader.” Omel saya.
“Ya maaf. Kalau Saya mampu, salah Saya? Tapi, iya, kamu sahabat saya..”
Saya cengar-cengir sendiri. Sebal juga ya, punya Sahabat yang bisa membaca pikiran. Saya jadi takut berpikir yang enggak-enggak.
“Sudah berapa lama kita bersahabat?” Tanya saya.
“Tanggal 25 nanti 24 tahun.”
“Arrgh.. tolong laaaah!” saya mengerang sebal.
“Kenapa? Nggak suka diingetin soal umur?” ledekNya.
“Nggak apa-apa sih… cuma…”
“Ya,ya ya, kamu sedang dalam fase denial terhadap ketuaanmu.”
“ARGGGH..tegaaaa” saya mengerang lagi.
Ia tertawa geli.
“Kita bersahabat 24 tahun ya?” Tanya saya.
“Iya.”
“Saat saya menjauh dariMu, saat saya tidak mau berkorban sepertiMu, masih dianggap sahabat juga?”
“Masih dong, apa kamu pikir enggak?”
“Kirain..” Saya terdiam, menatapNya. Lama.
“Thanks ya.” Seru saya pada akhirnya.
“Untuk?”
“Mmm, mau menjadi sahabat sejati, yang mengasihi saya dengan tidak berkesudahan, dengan sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan hal yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak mendendam, bersukacita karena kebenaran. …”
“Kamu nggak usah sok mellow gitu deh.” LedekNya.
“SERIUS! Jangan ngeledek gitu, napa?” protes saya.
“Okaaay..”
“dan, boleh nggak, saya bikin pengakuan…?”
“Terserah.”
“Hm.. tapi jangan diketawain…” seru saya, dan saya pun dapat merasakan bahwa pipi saya bersemu merah.
“Silahkan..”
“Janji?”
“Iya..”
“Bener?”
“Bener.”
“Serius?”
“Lama-lama kamu ngeselin.”
“Iya, iya….”
“Mau bilang apa..”
“Sayaaaa… ehmmm…semakin jatuh cinta padaMu.”
Ia diam, menatap saya lama. Selama beberapa jenak, saya tunggu reaksiNya. Duh, kok kayaknya biasa-biasa aja ya? Padahal saya sudah setengah mati memberanikan diri untuk bilang apa yang baru saya bilang.
“Kok diem? Kok nggak ada reaksi?” Tanya saya pada akhirnya, karena tidak tahan.
“Ya, soalnya Saya udah tau…”
“Oh daaamn! Saya lupa pada kemampuanMu membaca pikiran…” saya menepuk jidat. Ia tertawa lagi.
"Ehm, tapi apakah saya sudah mencintaiMu dengan benar?" tanya saya lagi setelah tawaNya usai. Ia tidak menjawab, hanya tersenyum.
"Belum ya? Pasti belum.." imbuh saya dengan sangat yakin.
“Tapi Saya juga jatuh cinta kok pada kamu. Kuanggap kamu adalah biji mataKu yang selalu Kujaga baik-baik…”
Aku tersipu malu.
"Sebentar.." ia berdiri dan mengambil sesuatu, sebuah gitar.
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Ngisi bensin.." jawabNya. Aku terbahak, tapi terus memperhatikanNya. Maka mulailah Ia bernyanyi, dengan sungguh. Mau nangis rasanya mendengar apa yang Ia nyanyikan.
If you feel that you’re lonely
It doesn’t prove that you’re alone
If you feel like nobody wants you
It doesn’t mean that no one cares about you
If you feel that you’re nothing
before Me you’re something beautiful
If you feel that you can’t do anything
but with Me you can do lot of things
Listen to the words I say
and I’ll always by your side
you mean everything to Me…
and I’ll never leave you ’cause I love you so..
When I say I love you
It means I’ll give the best for you
When I say I love you
I’d do everything for you
No more fears about the future
and blame for the past
when I say that I love you….
I want you to know that I died for you
I want you to know that I’d give my life for you
when I say that I love you….
Hatiku serasa mau meledak, senang rasanya, Ia mencintaiku, bahkan lebih besar dari rasa cintaku padaNya.
Keterangan : Judul Lagu : When I say I love you [Franky Sihombing]
(Dipinjem dari: http://blog.sepatumerah.net/2007/04/jatuh_cinta_pada_sahabat.html)
Selamat Paskah semua…..
Ujung suatu jalan
Aku sedang berada di ujung suatu jalan
Jalan yang penuh batu dan kerikil
Aku tak tahu apa yang menungguku di ujung sana
Satu-satunya yang menarik adalah pemandangan indah
Di sisi kiri dan kanan jalan itu
Aku sedang berada di ujung suatu jalan
Aku pernah melalui jalan seperti ini sebelumnya
Tersandung, terjatuh, terperosok
Tubuh penuh luka
Hanya untuk mndapati dinding tebal tak berujung
Aku sedang berada di ujung suatu jalan
Akankah aku melangkah menapakinya
Mempertaruhkan diri dengan luka yang sama
Berharap bukan jurang di ujung sana
Ladang Dandelion
Senja hari di puncak bukit. Angin sejuk mengurapi tubuhku dan membawa wangi bunga dari bukit-bukit sekitar. Awan seputih kapas berarak menuju barat. Ke arah lautan jingga.
Sekarang sudah bulan april lagi. Tanpa menolehpun aku tahu kamu mengangguk di sampingku.
Kamu ingat tempat itu? Aku menoleh dan mendapati kamu tersenyum manis, seperti yang biasa kamu bagikan pada dunia. Aku kembali menatap ladang dandelion di kaki bukit ini. Semilir angin mengantarkan ratusan serpih kecilnya ke dunia baru di luar sana.
Saat ini tahun lalu kita ada di sana. Semburat jingga langit senja tampak indah dari sana. Menanti bulan, memilih bintang, dan melantunkan senandung kecil.
Paskah juga di bulan ini. Kamu ingat, hari Paskah yang lalu, kita juga berada di sana. Membahas para gadis yang suka berdiri di pinggir jalan, atau berdebat tentang jenis anjing mana yang paling lucu.
Kalau kamu masih ingat, ulang tahunku juga ada di bulan ini. Saat itu kita juga ada di sana. Saat alam semesta terlelap, kita berbagi malam. Berbagi cerita dengan bulan, menari dengan gemintang. Kamu menemaniku menunggu pagi. Menanti sinar keemasan jatuh di helai rerumputan. Lagi-lagi kita berdebat. Namun kali ini topiknya tentang ladang dandelion ini.
Aku tersenyum dalam diam saat sejuta potongan kenangan melintas cepat di benakku. Kamu tetap di sampingku membisu.
Kamu masih ingat? Bulan april lalu ladang ini penuh dengan senyumanmu. Penuh dengan ratusan kupu-kupu yang entah sejak kapan menyukai tempat ini. Kupu-kupu yang sama yang mengisi relung di dasar perutku setiap kali bayanganmu jatuh di ladang ini, setiap kali kamu tergelak, setiap kali kamu menatapku.
Suaraku berganti gumaman lirih.
Kamu sudah lama tidak ke sana. Yah, kamu tidak akan pernah ke ladang dandelion itu lagi. Seindah-indahnya ladang dandelion di kaki bukit, taman bunga matahari di puncak bukit seberang tetap jauh lebih indah bagimu. Memang tak ada yang bisa menandingi keajaiban senyum-senyummu selain keindahan bunga-bunga kuning itu.
Aku terdiam lagi, bagiku seribu senyum bunga matahari sekalipun takkan mampu menyamai satu senyum ajaibmu.
Bagaimanapun juga, aku menoleh dan tersenyum, bagiku dan ladang dandelion ini, kamu tetap lelaki dengan senyum ajaib kami.
Senyum indah itu mengembang di wajah tampanmu. Puas menatap senyum itu untuk terakhir kali, aku berdiri.
Terimakasih untuk sore ini.
Aku berjalan menuruni bukit. Menuju ladang dandelion. Ladang yang masih merindukan lelaki di puncak bukit itu.
Oh ya.
Aku teringat sesuatu dan membalikkan tubuh. Menghadap wajahmu yang indah berlatarkan langit senja.
Satu hal lagi.
Jangan undang aku ke pernikahanmu.
Aku berbalik, membalas dekapan ladang dandelion yang menyambutku di suatu senja di bulan april.
Imme
Akhir Maret 2007
April’s Spirit
HAPPY APRIL EARTH….!