Jiwa Yang Terluka
Horas Amang,
Tadinya aku mau mengikuti jejak Amang dengan tersenyum dulu baru bertanya. Tapi kalo pake "smile" karakter pesannya jadi dikit yah? Jadi senyumnya manual aja ya,Mang…
Amang, tadinya aku mau nulis testi atw komen tapi pasti dalam waktu dekat akan tertindih fans Amang yang segambreng itu. Jd personal message aja deh.
Amang, di mana sih Amang nyimpen memory cerita2 di blog Amang itu? Amang punya buku harian? Atau emang kapasitas "hard disk" Amang besar ya :)? Sedetail2 itu bisa banget diinget. Aku jadi ngiri dengan "memory card" yang terbatas ini.
Okay, kembali ke laptop.
Amang, dari semua yang pernah aku baca dan dengar (jadi comparation masih minim nih), kayaknya baru Amang orang Indonesia yang memakai kata "terluka" untuk jiwa. Mungkin kalo di novel-novel terjemahan, atau Oprah Show, "jiwa terluka" sering bgt tersebut.
Sebenernya "jiwa yang terluka" gimana sih, Amang? Kayaknya di blog Amang di bagian Nina diledekin "ndut", Amang bilang ‘jiwanya mungkin terluka’, atw wkt Amang Ospek di STT, bentakan dan teriakan para seniorpun bikin jiwa Amang terluka.
Jiwa kita serapuh itu ya,Mang? Berarti "jiwa yang luka" itu milik semua org dong,Mang? Gak anak kecil, gak org tua, rentan "terluka" juga dong?
Aku sih gak pernah memakai kata "terluka", malah aku gak tau/sadar kalo jiwaku pernah (atau sedang) terluka. Apa itu karena kita gak lazim make kata2 itu ya,Mang?
Mungkin gak sih,Mang, kalo "sakit hati","marah","kesel","bete", itu kosa kata yang sehari2 kita pake bwt "jiwa terluka"?
Ada juga yang suka bilang "nyimpen akar pahit", itu juga termasuk ya,Mang?
Aku kalo ditanya ‘pnya akar pahit atw ga’, ga pake mikir juga, aku pasti jawab "enggak". Karena aku pikir hal kyk gitu didominasi sama org2 yang dalam hidupnya mengalami ‘cobaan extrem’ (ini bahasa aku sendiri ya,Mang, jgn nyalahin pdt lain) kayak broken home, abuse, perkosaan, dkk. Tapi bukannya orang itu sendiri gak tau dan ga sadar kalo dia sebenernya punya. Gimana ngebedainnya ya,Mang, yang kita rasain ini cuma marah, kesel, sakit hati "biasa" atau sampai melukai.
Hehehe… bahasa aku belepotan ya,Mang? Ini mmg selalu terjadi kalo banyak hal di pikiran aku rebutan mau keluar dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Reply ya,Amang…
Thx before
xxx
-Me-
Hai Imme
Tuhan rupanya menciptakan kita dengan hard disk yang luar biasa besar. Dari psikologi aku tahu tidak ada memori yang hilang (kecuali ada kerusakan fisik di otak hahahaha), masalahnya file-file itu seringkali tersembunyi, tersimpan acak, atau campur-aduk dengan file lain. Itu bisa dilatih. Dengan proses katarsis (mengeluarkan semua perasaan dan pikiran), file2 lama itu muncul kembali dan disimpan ulang lebih rapih.
Ya, jiwa kita sama saja dengan badan kita. Banyak hal yang bisa melukai jiwa kita. Antara lain kata-kata kasar, penghinaan, pelecehan, pengalaman buruk dll. Namun ngga usah kuatir juga, luka itu bisa disembuhkan. caranya dengan mengeluarkan kembali perasaan2 itu, jangan memendam atau menguburkannya. Namun ada obat yang paling mujarab menyembuhkan luka batin, yaitu: cinta.
Kita semua manusia yang punya daging dan jiwa, sejarah dan perasaan. Siapapun kita bisa marah, sedih, takut, sakit hati, kecewa dll. Jika perasaan2 itu diakui dan diterima sebagai bagian diri kita, dan diungkapkan dengan baik dan santun, maka tak ada yang "terluka", baik kita maupun orang lain. Kadang2 orang kristen salah kaprah seolah2 kita tidak boleh marah atau sakit hati, akibatnya perasaan itu disangkal (padahal ada) dan dipendam, atau ditutupi. Akibatnya orang yang bersangkutan jadi tegang, aneh-aneh dan sakit jiwa hahahahaha.
Aku ngga suka pake istilah "akar pahit" sebab kata itu tak jelas artinya. Akhirnya aku mau bilang ama Imme: be your self, do your best, and let’s celebrate our life!
Horas
Daniel
(aku senang sekali terima surat imme)
Tetap gembira dan berjuang untuk sukses ya?!
Sore, Cupid, dan Jatuh Cinta
Aku sedang menggeser pot tanaman suplir di beranda depan rumah. Di luar sana, butiran gerimis masih turun. Saat itu, sosoknya melintas.
Ia bergerak perlahan.
Sesekali terbatuk.
Hatsyii. Dan bersin.
Ah, sedang flu rupanya.
Mengapa ia tak berteduh sejenak?
“Cupid, hai, kemarilah, duduk dulu,” aku berlari kecil tanpa payung ke halaman, membuka pagar kayu.
Ia menoleh ke arahku.
Tersenyum.
Dan, Hatsyii.
Cupid bersin lagi
“Ayo, kau sedang flu, tak baik berlama-lama di bawah gerimis, masuklah, aku buatkan kau coklat hangat,” aku berjalan ke luar pagar, menggandeng tangannya, menuju beranda rumah.
Kutinggalkan ia di kursi depan. Ketika kembali, di tanganku sudah ada dua cangkir coklat hangat.
“Sebentar, akan kuambilkan handuk bersih, rambut dan sayapmu pasti basah,” ujarku.
Cupid mengangguk dan bersiap bersin kembali.
“Terima kasih,” ia menerima handuk, segera mengeringkan rambut dan sayapnya.
Aku membantunya melepaskan buntalan kecil, tempat menyimpan panah-panah cinta, yang biasa ditaruh di punggungnya. Di buntalan kecil itu, masih ada beberapa panah cinta yang tersisa.
“Sepertinya sibuk sekali hari ini,” kataku.
Aku baru saja melepas beberapa panah cinta, jawab Cupid.
“Oh ya?”
Ya. Satu panah untuk gadis yang menjaga toko bunga di ujung jalan ini, ia jatuh cinta pada seorang pelanggannya. Satu panah lagi untuk bapak guru yang mengajar di sekolah musik, tinggalnya tak jauh dari rumahmu, ia jatuh cinta pada teman masa kecilnya. Setelah sekian lama terpisah, beberapa minggu lalu mereka bertemu lagi, dan rasa itu tumbuh.
“Sulitkah?”
Apa?
“Pekerjaanmu?”
Tidak. Ini pekerjaan yang menyenangkan. Membuat orang jatuh cinta, mengecat dinding hati manusia dengan warna merah jambu. Dan selanjutnya, ku tahu kau paham apa yang akan terjadi.
“Hahahhaha,” aku tertawa. “Ya, perasaan melayang dan nyaman, rindu mendengar suaranya, berharap waktu berhenti saat kita berada di dekatnya, jatuh cinta …”
Menyenangkan bukan? Cupid bertanya.
“Beberapa ya, tapi tak jarang jatuh cinta itu juga menyulitkan."
Kau tahu. Begitu panah cinta ini terlepas, ia tidak datang hanya dengan muatan cinta saja. Tapi juga dengan kekuatan.
“Maksudnya?”
Jadi ketika cat merah jambu itu pudar, kekuatan untuk tetap melindungi hati dari sakit akan mulai bekerja. Dan, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Akan ada ritme baru. Hidup tetap akan sama indahnya. Karena apa? Jatuh cinta itu seharusnya menyenangkan, bukan membuat orang terpuruk dan sedih berkepanjangan. Iya kan non?
“Yup,” jawabku.
Kami masih bercerita, sambil menunggu hujan reda.
Oke non, aku harus pergi sekarang, terima kasih untuk susu coklat dan obrolan sore ini.
Cupid bangkit dari duduknya. Memasang kembali buntalan kecil tempat panah-panah cinta tersimpan.
“Jangan lupa istirahat, apa jadinya dunia kalau flu mu bertambah parah, tak ada panah cinta yang dilepaskan,” ujarku.
Yayaya. Tak usah kau beri aku pelukan, flu ku ini bisa menular, tuturnya.
Aku ikut berdiri. Menjejeri langkahnya
“Hmm … ,” aku menggantung kalimatku.
Ada apa? Ayo, katakan saja.
“Hmmm, bisakah kau sisakan satu panah cinta untukku?” tanyaku, sedikit berbisik.
Cupid tergelak.
Tentu, jawabnya cepat.
Masih akan ada panah cinta untukmu non. Sebentar, ia mengeluarkan buku kecil, membalik halamannya dan berhenti, … ada perubahan atau masih sama dengan apa yang kau pinta dulu?
Cupid mulai membacakan tulisan di salah satu halaman dalam buku kecil itu; laki-laki yang menulis, bisa bermain musik dan menyanyi, senang membaca, punya selera humor yang baik, hangat, kalau bisa tidak terlalu cerewet, dan …
“Hahahahah, kau masih menyimpannya”.
Derai tawaku membuat Cupid berhenti membaca.
Cupid mengangguk.
Ya, aku masih menyimpannya. Ingat, kau pernah bercerita tentang laki-laki yang bisa meruntuhkan hatimu.
Kami berdua tergelak.
Tak ada rumusan baku dalam jatuh cinta, ucap Cupid, kau bisa saja tertarik pada laki-laki yang jauh dari apa yang ada di pikiranmu saat ini
“Aku tahu,” jawabku, tersenyum.
Akan aku sisakan panah cinta untukmu non, ujar Cupid.
Saat panah itu datang, ingatlah … jatuh cinta itu seharusnya menyenangkan.
“Kau baik sekali, terima kasih”, kataku seraya memeluk Cupid
Hey, sudah kubilang tadi, aku sedang flu.
Dan aku tetap memeluknya …
( Punya "Atta" dari http://www.negeri-senja.com
dengan perubahan semaunya.. hihi… )
Dedicated to Kiel
Di angkot
Kemaren pulang kebaktian sekitar jam 9 malam, gw naik angkot 05A jurusan Bekasi-Galaxy. Angkotnya lumayan penuh. Gw dapet tempat duduk di bagian belakang. Bukan tempatnya yang gw sesalkan, tapi cowok di samping gw, bo… bau bgt! Gw termasuk orang berhidung sensitive. Di tempat yang sama, gw bisa membaui sesuatu sampai 1 menit sebelum orang lain nyium. Karena itu juga gw sering jadi tersangka bila ada bau gas asing. Kalau ada orang berbau badan atau justru parfum murahan yang baunya nyengat masuk ke ruangan, gw orang pertama yang akan pusing-pusing, mual-mual, dan dilanjutkan dengan ha..hacchhhiiiii…. Si orang yang di samping gw tadi kayaknya merasa kalo badannya bau dan mengganggu orang sekitar, terlebih gw (gw berfikir untuk tutup idung, tapi gak jadi. Kasian.). Duduknya gelisah gitu. Mepet-mepet ke pojokan. Gak jelas dia ngerasa bau atau emang wasir. Untunglah dia cepet turun. Jendela langsung gw buka lebar, walau angin malam bulan maret cukup kencang dan dingin.
Masih di angkot yang sama, ada sepasang cowok cewek yang lagi falling in love. Mari gw deskripsikan. Si cewek, tinggi, langsing, putih bersih, hidung betet ala Arab, rambut lurus dengan ikal di ujungnya. Oke, gw akuin kecantikannya setengah level di atas gw. Kebayang dong cantiknya. Sang pria, hm… apa ya… SO KIEL gitu lho (kiel adl teman SMU si penulis-Red). Kiel’s little bit better actually. Maksud gw, kebalikan si cewek tadilah. Mereka mengingatkan gw pada satu film Disney. Si cewek ngelus-ngelus pipi si cowok. Gw berfikir, apa yang si cewek ini liat dari sang cowok? Mungkin si cewek termasuk penganut aliran cewek-cantik-yang-sengaja-memacari-cowok-yang-agak-kurang-sedikit-nyaris-hampir-cakep. Beberapa cewek cantik (mungkin pria tampan juga) ada yang sengaja begitu. Untuk semacam skema anti selingkuh kali ya. Hahaha…. Mengesampingkan kemungkinan bahwa si cewek memang suka wajah “eksotik”, kayaknya daya tarik fisik nyaris gak mungkin. Kalo karena harta? Tapi kan mereka naik angkot? Tapi, bisa aja mobil si cowok lagi bengkel or something gitu. Mungkin itu alasannya. Eh, gak lama gw peratiin, si cewek ngambil duit 3000 perak dari tasnya (gw asumsikan untuk bayar ongkos mereka). Lho? Seumur-umur kalo gw naik angkot sama cowok (pacar gw ato bukan) gw gak pernah bayarin mereka. Atau paling naasnya, bayar sendiri-sendiri. Entahlah, yang gw liat dan nilai kan cuma dari sudut pandang orang ketiga. Siapa yang tau kalo cowok itu lagi gak punya rupiah, di dompetnya euro semua. Bisa aja kan ? Tapi gw tetap salut sama mereka. Cewek itu terutama. Dia (mungkin) bisa melihat apa yang terpancar dari dalan sang cowok. Apapun itu yang pasti lebih besar dari sesuatu yang orang luar bisa nilai “gak banget “.
Kiel
Ga tau kenapa waktu ngeliat cowok tadi, gw langsung keinget Kiel. Yehezkiel, temen sekelas gw waktu kelas 3 SMU (SMA jaman dulu). Gw gak kenal Kiel secara pribadi, hal ini lebih disebabkan, kalo ngeliat dia,yang selalu berpasangan dengan gigi putihnya, kontras dengan warna kulit dan rambutnya yang legam itu, lalu tersenyum-senyum mesum, niat ngajak ngobrolpun langsung menguap. Kiel orang yang baik. Sama kayak Tony “Andri” Berakstone (sumpah, buka gw yang bikin julukan menjijikan ini), Kiel gak pernah marah walaupun mereka adalah sasaran lelucon konyol kadang kejam dari anak-anak IPS 2. Bahkan di komik kelas bikinan Bjoe, Kiel digambarkan sebagai monster perompak kejam (eh, bener gak sih,jo?). Satu hal yang gw gak bisa lupa dari Kiel, waktu itu ulangan PPKN (sekarang namanya apa ya? Balik ke PMP kali. Hahaha…). Gurunya hm…. Gw gak inget namanya. Pokoknya satu-satunya ibu guru yang gak pake jilbab. Sebelum ulangan kita ngumpulin pe-er dulu. Jadi kita ngerjain soal ulangan, si ibu guru meriksa pe-er kita. Kiel, yang waktu itu duduk di bangku paling belakang, ngebet dari buku yang ditaro di pahanya. Suasana hening dan hikmad. Semua konsentrasi mengerjakan soal (dan mencari halaman yang tepat). Tiba-tiba,”YEHEZKIEL…..” si ibu berseru (halah!!) dari tempat duduknya. Kami sekelas (tau kalo Kiel lagi ngebet) terkejut. Bruk… mungkin karena gemetar, buku tebal yang di pahanya jatuh ke lantai. Gw noleh ke belakang, ya Tuhan, wajah Kiel mulai bermetamorfosis, bukan menjadi tampan pastinya, warna wajahnya berubah. Hitam, merah tua, merah, memucat, lebih pucat lagi. Tapi karena warna dasar wajahnya legam, hasil pucatnya berarti abu-abu butek. Seluruh kelas menahan napas (terlebih yang ngebet juga). Kiel pasti dihukum. Beraninya nyontek di pelajaran “moral”. Atau kami sekelas akan dijemur, atau ulangan dibatalkan dan kami diliburkan (lho? Kok jadi enak?)? Wajah Kiel masih berwarna tidak wajar. Si ibu berkata (kali ini dengan nada dan volume yang lebih pelan),”Pe-er kamu ini masih belum selesai.” GUBRAAAK…. Huahahah..haha…. seluruh kelas membahana. Wajah Kiel berangsur berwarna kelam lagi, dan dia mulai tertawa, hahaha…. Antara lega dan bersalah (gw gak ngeliat sih, tapi mungkin diam-diam saat itulah dia ngambil buku cetak yang ada di lantai itu). Si ibu yang (ternyata) tak tau apa-apa itu bingung. Mengapa kelas ini begitu bahagia waktu temannya tidak selesai mengerjakan pe-er….
Kiel…kiel… di mana ya dia sekarang ?
Kiel, di manapun loe berada sekarang, namamu akan selalu terukir di hati kami…
Berbahagialah di sana….. (lho ?)
Lontong dan Blog Favorit
Lontong Perdamaian
Kemarin, gw berniat membawa ketupat sayur padang ke kantor sebagai “sesajen perdamaian” untuk menunjukan semua niat baik gw bwt “memecah kebekuan”. Tapi malangnya, si abang yang murah senyum itu no operate (istilah penerbangan kalo pesawat yang dijadwalkan tiba-tiba tidak dapat diterbangkan karena berbagai alasan). Kecewa bercampur pasrah, gw tiba di kantor. But, you know what (we don’t know…), tanpa harus gw kasih seserahan apapun, kayaknya suasana sudah mulai mencontoh cairnya gunung-gunung es di antartika. Doa gw dikabulkan ternyata.
Blog Favorit Gw
Gw adalah orang yang suka membaca dan menulis (mengetik juga). Memang sepertinya agak sulit dipercaya (yeah….) tapi beneran. Selain komik, novel, majalah, buku-buku ringan, gw juga menjadikan blog orang lain sebagai bahan bacaan dan (kadangkala sebagai) sumber inspirasi gw. Cuma gw sadar, karena blog itu jurnal pribadi, di mana sang penulis bisa menulis apa saja tanpa peduli bobot isinya, gw agak kesulitan menemukan blog yang emang bener-bener “penting”. Malah ada blog temen gw Thomas, itu sih bener-bener “penting” sampe hamper 70 persen isi blognya gw gak ngerti sama sekali karena memakai bahasa dewa. Trus punya Ape, gw agak-agak rancu, itu blog pribadi atau jurnal badminton. Berikut, list blogs yang sering gw baca (menurut ranking):
1. DTA’s Blog (recommended khusus bwt HKBP Open Minded) http://danielharahap.blogs.friendster.com/my_blog/
Isinya ttg perjalanan dan pengalaman seorang pendeta HKBP. Banyak hal baru dan unik dalam blog ini. Gw banyak terinspirasi dari sini.
2. Negeri Senja (recommended bwt pencinta romatisme) http://www.negeri-senja.com/
Gw gak kenal sama sekali dengan Atta si empunya blog ini. Walaupun jarang di- update, tapi menurut gw ini blog bagus bgt. Si atta ini sangat berbakat dan sangat romantis.
3. Aku dan dunia baru http://akudanlangitku.blogs.friendster.com/akudanduniabaru/
Blognya Presiden Bem Fisip Undip. Isinya tentang kehidupannya yang dikemas dengan lelucon-lelucon konyol tapi cerdas (udah kayak kritikus di majalah gak sih gw). Sepertinya sang penulis banyak terinspirasi oleh kakak satu-satunya, yang juga tak kalah matang dalam dunia tulis-menulis.
4. Wiradikusuma
http://wiradikusuma.blogspot.com/
Ini dia blog bahasa dewa yang gw sebut tadi. Gw kenal tulisan Thomas lebih dulu daripada kenal sosok aslinya. Dengan ibu seorang journalis, gak heran tulisan dan puisi-puisi (cinta)-nya dahsyat dan berbobot (cie Thompskie…).
Buat teman2 yang punya blog favorit juga, kasi tau gw ya…
Darah dan Blog
Darah
Pagi ini gw hari gw dimulai dengan darah. Waktu gw mau ngambil kopi susu ABC dari laci, dengan gak ngeliat, gw merogoh lagi. Tiba2 ada sedikit nyeri di ujung jari manis tangan kiri gw. Waktu gw liat, jari mungil itu sudah bersimbah darah. Huh..ada silet terbuka ternyata di dalam sana. Ga ada yang bisa gw salahin, karna gw sendiri yang naro tuh silet si situ. Setelah selesai mencuci (sejak masih PMR, gw selalu mencuci luka sebelum diberikan tindak lanjut),dan menutup lukanya,gw inspeksi laci dan membuang silet sialan itu. Ternyata, ada sekitar 5 biji lagi silet baru yang siap menunggu mangsanya.Huh…
Blog dan privacy
Kemaren,temen gw nanya, kenapa gw begitu gamblang menuangkan hidup gw di blog. Emg udh gak pny privacy lagi? (halo Nida….) Menurut gw,blog gw cukup terbuka sehingga orang yang tak mengenal gw sekalipun bisa pemberikan penilaian terhadap gw, isi otak gw, cara berfikir gw,bahkan mungkin jiwa gw, dan cukup tertutup untuk melindungi hal2 yang gak ingin gw share dengan publik. Gw ga berpura2 jadi pribadi yang lain di blog ini kok. Memang inilah gw. Dan untuk hal-hal yang cuma gw dan Tuhan gw aja yang tau, gw punya handwriting blog, alias buku harian yang selalu gw kasih nama
I need more strengh…
Bapa…
Ternyata aku masih butuh kekuatan…
Lebih dari yang kemarin-kemarin…
Bapa…
Aku berada di mana?
Apakah aku masih berada pada fase menatap dan meratapi serpihan-serpihan hatiku yang berserakan?
Ataukah aku sudah mulai berdiri dan memunguti tiap kepingannya untuk kususun kembali menjadi hati yang utuh?
Aku sudah mulai bangkit kan,Bapa? Aku sudah menata hatiku kembali kan,Bapa?
Namun kadang kala, aku salah menempatkan beberapa keping. Karena itu aku harus membongkarnya sedikit, dan menyusunnya kembali pada tempat yang tepat.
Kurasa rasa mual dan sakit kepala yang acap kali aku rasakan saat satu dan beberapa hal terbesit di pikiranku, mengindikasikan aku harus membongkar beberapa bagian.
Aku bisa,Bapa…
Engkau tahu itu…
Aku juga tahu…
Tapi tidak tanpa dekapan penuh kasihMu,Bapa…
Tidak tanpa bisikan lembut di telingaku,"Itu hanya tembikar,anakKu"
Tidak tanpa uluran tangan kananMu ketika kujatuh lagi…